Sunday, May 31, 2009

Keris dan Bunga Tanjung

Salam.

Pagi-pagi tadi, saya terpisat-pisat bangun sekitar jam 7.30, selepas tidur kurang empat jam. Sesi pembentangan sepanjang hari untuk membantu pelajar-pelajar Tahun Tiga menduduki ujian praktikal minggu hadapan akan bermula jam 9 pagi. Saya mesti cepat-cepat bangkit dan bersiap. Sempat menjeling skrin komputer yang sedia terpasang, saya nampak empat IM Yahoo!Messenger. Dua daripadanya mengucapkan tahniah kerana cerpen tersiar dalam majalah, Dewan Siswa Jun 2009.

Alhamdulillah.

Saya sudah setahun tidak menghantar karya ke media. Masih menulis, walaupun tidak sekerap dulu, tapi tidak lagi menghantar karya. Entah kenapa saya pun kurang pasti. Nak kata takut kena reject, seingat saya, tidak pernah lagi karya yang saya hantar kena reject. Dalam aspek-aspek hidup yang lain saja saya agak dysfunctional - tapi alhamdulillah tidak dalam sastera.

Cerpen yang tersiar itu adalah tulisan saya pada hujung tahun 2007 kalau tidak silap, dan dihantar kepada Kak Eton editor Dewan Siswa semasa cuti musim panas 2008 - Jun atau Julai rasanya. Begitu lama dihantar, kata Kak Eton apabila ditanya, sudah diterima, cuma menunggu giliran untuk diterbitkan. Begitu lama sekali menunggu giliran, akhirnya sampai selepas setahun! Tersenyum-senyum seorang diri saya pagi tadi.

Moga-moga saya akan rajin menghantar penulisan ke media semula. Kawan-kawan lain yang berbakat dan berminat, jangan tangguh-tangguh, gelanggang sastera memerlukan muka-muka baru yang segar dan bertenaga =)

Saya sertakan secebis dua fragmen daripada cerpen Keris dan Bunga Tanjung yang asal dalam simpanan saya - tidak pastilah pula kalau berlaku perubahan di sana sini setelah diedit untuk penerbitan. Ah, mesti paksa adik saya belikan majalah ini sebagai koleksi!

Gelanggang berlantaikan tanah liat berpasir yang mampat padat dilatam, dikelilingi pacak-pacak andang yang bernyala memuntahkan jelaga yang cepat ditelan malam, hidup dengan teriak pekik dan guling banting anak-anak gayong. Susuk-susuk berpakaian serba hitam berlilit destar di kepala, yang perempuan mengikat sarung batik di pinggang santak ke bawah lutut, mengatur langkah perwira tapak demi tapak, susun turutan yang mulanya terkial-kial dihafaz kini sebati dengan gerak.


...

Awal remaja, aku dan Hussein bertemu di gelanggang gayong. Di bawah mata helang dan tegas jerkah bapanya Pak Mahmud, jurus silat kami pertajam, jeling-jeling memercupkan rindu dendam. Sedekad berlalu dan kami menautkan janji untuk sehidup semati, janji untuk memartabatkan gayong sebagai jati diri bangsa yang tebal dengan seni. Ada bezakah antara cinta kepada Hussein dan cinta kepada gayong?


...


“Kisah ibu dengan gemulah ayah sama sekali tidak boleh dikaitkan dengan Tajuddin. Dia benar-benar belot. Mengkhianati gelanggang, mengkhianati gayong. Mengkhianati Anum!”

Sekarang, aku bukan lagi gurulatih tegas di tengah gelanggang. Faridah Hanum, puteri sulungku yang selalu sekeras berlian, menghamburkan tangis di bahu ibunya.



salam,
meow~

Sunday, May 24, 2009

Choice and Responsibilities - fragment of idea

As the car blasted through the night, the road stretching long and empty, I could feel the heart pounding beneath my ribcage. Cold sweat trickling down my forehead, and beneath my headscarf my neck was drenched wet.

We had barely escaped.

"Mama, why are we running away like this?"
The small voice of Alexei, the little kid strapped with child-safety belts on my left broke the monotony of car engine and night winds.

"Because the bad people have found where we were hiding, and we must never let them catch us."

"Why are there always bad people chasing us?"

I gulped, racking my brain for an answer. Usually it is considerably fast in giving responses - I think the overload of adrenaline has slowed it down when it comes to wit and words. Before I could say something, Alexei added another question.

"Why is papa not around with us? Protecting us? I think papas are supposed to be protective."

At five years old, Alexei is nowhere near his peers. Something I should be proud of, but at times, it is heartbreakingly difficult to deal with.

"Papa is also on the run. He's doing something very, very important."

"More important than us? Why can't he do it with us? We're also running away, it would be the same thing, only we'd be together. You're also doing something important, isn't it mama? How many important things are there in the world? Can't you choose which one to do?"

"Yes, mama is also doing something important, which is why we need to keep ourselves safe from the bad people until everything is settled." I know I am deliberately answering only part of the question. My eyes are focused on the long stretch of wide road ahead, empty and dark, littered by square little lights to mark the traffic lines, with lamp posts perched every 100 yards or so. I looked on the rearview mirror every now and then, never forgetting to thank God every time I'm convinced we are not being followed. A glance to the left confirmed my suspicion that Alexei with his little dark eyes is looking contemplatively at the same road, head swirling with questions and contradictions.

"Why must we do important things? I'm sure if we don't do important things, we can live happily together at home - mama, papa, me, our cat - and we don't need to keep running away. " He paused. "Or we can do important things that does not make bad people want to catch us. I am sure there are many."

"Yes there are... but this is what mama and papa chose to do. Hence we had to be devoted to this choice we had made, and pursue it till we..." I carefully selected the words, "...have done our best, regardless whether we are successful or not."

"But mama, it is your choice and papa's. I did not make the choice. Why must I be dragged in as well?"

Of all questions Alexei had and could have had asked, I didn't expect this one.

"You're still a small child, darling. Mama and papa are still responsible for taking care of you, and we cannot leave you on your own to follow your own choices. We had to involve you in decisions we take, and make sure that you're as safe and happy as possible. When you grow up old enough to decide, you can make choices on your own. Would you be happy with that?"

Does responsibility of care mean that the carers must make the charge follow their decision-making, or follow the decisions of their charge, or make a joint-decision? Ah, I am being too technical about this. Alexei is just a child - however smart he is, he is not yet fit to decide matters himself, let alone to execute his decision independently. That is the excuse for me and his papa to "drag Alexei in our decision".

Alexei was quiet for a while. He's thinking. I thought of his papa with a twinge of melancholic reminiscence. I know why we chose to do this, dear, but sometimes, I need reminders... from you, while you're physically by my side.

"I don't know. I'm happier if you decide for me - if that means I can always be with you. I don't mind going places and running from bad guys, if I can be with mama. I just wish papa can be with us too. I hate it when you leave me with Aunties and Uncles, sometimes I don't even know who they are. If I get to make my own choices, I want to choose to follow mama. And papa."

People will squander their rights, their freedom to choose independently, because of love. Little Alexei knows that. The dynamics involved in the making of choices is not simply reduced to a discourse between dependence or autonomy.

"Mama, I want to pee."

The road stretches long and far, to our left and right are forests and hills. No building nowhere. I referred to the SatNav, and noted with relief that there should be an R&R in 10 minutes' time.

"Can you wait ten minutes?"

"I'll try."

"If you love mama, do your best not to wet the sofa, pleaseee."

Alexei gave an evil grin, and we both laughed.

Friday, May 22, 2009

Kontemplasi I

Salam.

Sekarang musim bunga. Maghrib menganjak jauh-jauh, hujung senja mampir merapat dengan pangkal hari. Sementara pangkal hari pula seperti mengerti, hari demi hari, mengengsut mendekat, mendekat, Subuh kian hari muncul kian cepat.

Matahari muda keluar pagi-pagi, sudah jadi remaja ketika kaki laju ke hospital atau ke mana-mana saja untuk memulakan hari. Cerah dan girang, hangatnya lembut dan kuningnya cemerlang.

Baik ketika melangkah di jalan-jalan raya, atau hanya duduk-duduk di meja membiarkan bayu bertebaran masuk dari jendela yang separuh terbuka, aku tidak pernah tidak terpesona. Pokok-pokok yang dulunya hanya ranting berceracakan, semuanya meriah mengibarkan rimbun-rimbun daun hijau.

Kerap kali juga, musim bunga dirundung mendung sepanjang hari. Atau hujan yang merembes, tidak mahu berhenti, dari sebelum fajar terbit hingga merah maghrib mengapung di langit. Aku tidak kisah. Hujan juga indah.

Lagu hujan yang gugur deras-perlahan di atas kaca tingkap yang mencondong, irama tanpa melodi, damai meresap-resap ke hati. Desir sejuta tetali hujan yang dipetik seribu jejari angin di luar sana, dendang rindu atau ria yang menerawang ke seluruh maya? Melangkah damai merempuh tirai hujan, sedang titis-titis air itu memercik ke wajah, jatuh berlumba-lumba sampai kerudung, kot luar dan sepatu kuyup basah, makin lebat, makin indah!

Musim bunga sebenarnya sudah hampir ke hujung. Kuntum gebu yang penuh bersesakan di celah dahan dulu, yang begitu meriah menaburkan kelopak salji putih dan merah jambu, sudah hilang entah ke mana. Tentu sudah gugur dan layu kerana sudah habis waktu.

Kuntum-kuntum musim bunga sudah layu.

Ketika-ketika ini, aku teringat musim dingin. Musim beku. Musim yang aku sebutkan sebagai musim paling romantis. Aku pernah menghuraikan begitu untuk seseorang yang mempersoalkan.

"...Romantikanya dalam nuansa redup putih, hitam, dan kelabu, pudar dan kaku namun penuh emosi.

Angin sejuk yang sama sekali tidak ramah, keras dan pahit, namun tetap berhembus dan membelai seluruh anggota, setiap langkah.

Pohon-pohon sepi tidak berdaun yang menghabiskan waktu-waktu dalam tafakur, diriannya bercerita tanpa kata, tentang kemeriahan musim luruh yang telah berlalu, dan impian penuh harap menanti tibanya kegirangan musim bunga.

Deruan salji yang gugur, jarang-jarang tiba, kehadirannya disambut dan diraikan sebelum cair di tapak tangan.


Musim dingin adalah musim untuk cinta yang terpendam, renungan tentang masa lalu dan masa depan, serta penghargaan untuk setiap keindahan yang hanya sekejap datang."

Penilaian di kampus baru bermula, tetapi aku menemui malam-malamku tidak ditemani buku-buku. Aku menulis, berfikir, merayau-rayau tanpa hala tuju, akhirnya pagi tiba dan aku mencari sejemput tidur sebelum hari bermula. Tidak, fikiranku tidak kacau. Laut lepas manapun yang hampir lemas kurenang, terima kasih Tuhan kerana membekalkan dengan iman dan al-Quran sebagai pelampung dan pelabuhan.

Cuma mungkin bawah sedar merindu-rindu musim dingin, ketika semuanya beku, kaku, dan diam, semuanya damai dan terpendam. Semuanya ketika itu, tenang.

Cuma mungkin bawah sedar terkenang musim bunga, ketika kuntum-kuntum meriah itu dulu buru-buru mau keluar berjumpa suria, bergurau senda dengan angin dan matahari, sementara burung entah dari mana membisikkan harapan dan janji. Yang entah dari mana datangnya. Apabila yang tinggal adalah kelopak yang sudah layu menjadi tanah, maka entah kenapa, langkah menjadi lemah.

Menyesalkah?

Aku tidak pernah mahu menggunakan istilah menyesal dalam hidup.

Cuma mungkin bawah sedar mengeluh, lebih baik musim dingin terus kekal di sini, tidak perlu diganti oleh musim bunga yang mengusik-usik, riang dan bebas, datang hanya untuk pergi. Sama seperti emping salji - tetapi salji cair di tapak tangan yang akan kering selepas sesaat. Tangan itu boleh digenggam, dan kaki terus melangkah. Sedangkan aku melihat diriku, ada waktu-waktunya terhenti bisu di bawah pohon yang sudah tidak berbunga, terlalu angkuh walaupun untuk mengakui bahawa aku kepingin lagi berjalan di bawah deraian kelopak putih dan merah jambu.

Mungkin aku belum benar-benar faham pesanan angin utara yang dititipkan tanpa jemu dulu.

Musim dingin adalah musim untuk cinta yang terpendam, renungan tentang masa lalu dan masa depan, serta penghargaan untuk setiap keindahan yang hanya sekejap datang.

Barangkali pesanan itu cukup menjadi bekal untuk mendepani apa-apa musim saja yang mungkin datang.

Esok belum tentu cuaca apa yang menanti, tapi jika Allah mengizinkan aku hidup lagi, indahnya itu aku pasti. Anugerah yang dikirimkanNya sentiasa cantik. Mungkin esok, kalau hujan tidak melampau lebat, aku mahu ke taman di sebelah kediaman.

Sudah lama tidak duduk-duduk di bangku melihat orang lalu-lalang dan bayang-bayang pokok yang berjatuhan ditolak cahaya matahari petang. Sudah lama juga tidak berjalan-jalan menapaki denai, kiri kanan diapit pohon gagah yang tinggi berdaun rimbun, redup dan harum. My Lothlorien. Where I used to read The Lord of The Rings, reading of Frodo, Sam, Merry and Pippin, of Arwen and Aragorn, of things that never was and never will be.

I don't actually have anything to lose, in this respect, now. Perhaps, I had never gained anything that I can lose. So let's dance, sing, shout to the whole world and be happy.

Matahari, angin, dan hujan, ayuh kita bernyanyi. Salji dalam hati, biarkan ia beku sampai ---?

-2.40 a.m.
19 hari sebelum OSCE-
meow~

Wednesday, May 06, 2009

Requiem untuk sebuah Tanah Air

Seribu pasang tangan
mungkin sejuta
(aku sering terpaksa membaca riwayat
dari perawi yang tidak pernah tepat)
melambaikan bendera hitam
bendera hitam dari jalan-jalan
dari rumah-rumah
dari hati dan jiwa yang sudah lelah
satu protes kepada sebuah sejarah
sejarah tanah air yang dijarah pemerintah.

Hitam pekat tinta dari lumpur tanah
bau hamis seperti darah
masinnya seperti peluh dan air mata
bergayung-gayung tumpah
desir bendera ditiup angin,
bunyinya mirip esak-esak tangis,
sesekali terdengar raungan menghiris
atau mungkinkah itu sayup-sayup herdikan polis?

Kepala tanah air apakah itu
yang berebut negeri dengan rakyatnya
rakyat tanah air manakah itu
yang merelakan negeri direntap dari bawah kakinya
kepala tanah air zaman bilakah itu
yang mencuri negeri dari rakyatnya
dibahagi-bahagikan sesama mereka
sambil menghantar perawi-perawi dusta
rakyat tanah air bagaimanakah itu
yang menelan bohong-bohong dengan wajah suka
sementara bendera-bendera hitam terus berkibar
bertingkah dengan angin memainkan lagu perjuangan.

Kalau tanah air itu masih punya nyawa
maka akan diperjuangkanlah.

Kalau tanah air itu sudah mati asa
(seperti jasad yang dibunuh oleh kepala-kepalanya
rela menjadi hantu penanggal kerana tamak kuasa)
maka biarkan ia dikuburkanlah
bendera-bendera hitam sebagai kafan
ramai-ramai rakyat menyanyikan dendang ratapan
nyanyian selamat tinggal penuh harmoni
untuk keadilan dalam sebuah tanah air yang sudah mati.


-th 17f, 6.38 a.m.-

Friday, May 01, 2009

Kalau Luka, Letakkan Madu

Salam.

Tiga (atau empat?) hari yang lepas, saya cuai sewaktu mengasakkan sudu-sudu yang dibasuh ke dalam raga di tepi mangkuk sinki, langsung jari terturis mata pisau yang menanti. Mula-mula terasa irisan tajam, saya lihat ada luka yang belum berdarah. Lantas saya cuci - jari dan pisau yang menuris. Dalam hati mengeluh kecil - esok mahu berhabis-habis waktu di wad, paling tidak suka jika ada open wound - walaupun ditutupi plaster! (Saya sangat OCD tentang kebersihan dan infection control.)

Ambil gelas, susu dalam peti sejuk, ambil botol madu. Badan rasa kurang sedap sebenarnya. Mungkin susu yang diaduk dengan madu dapat menjadi asbab sedikit kelegaan. Tiba-tiba mendapat ilham - apa kata luka di jari ini, saya curahkan sedikit madu? Pernah juga terbaca, madu dan jeli petroleum adalah antara bahan yang bagus untuk menutup luka supaya terlindung daripada jangkitan dan mempercepat penyembuhan.

Luka yang mulanya hanya segaris kulit yang terlokoh, apabila dicurah setompok madu, berubah pedih, ketika madu mula meresapi tisu yang cedera. Darah tiba-tiba bergenang dan melimpah dalam satu garis halus - cairan merah dengan kepekatan osmosis yang berbeza, merintis galuran sendiri dalam pekat madu yang menakung, lalu larut dan meleleh perlahan bersama lekit titisan madu meniti jari-jari jatuh ke tapak tangan. Saya biarkan. Pedih yang sekelumit lama-lama akan hilang. Berhati-hati supaya tangan yang bersememeh madu tidak menyentuh pintu atau dinding, saya kembali ke bilik dan menggunakan enjin Google (seperti selalu) untuk mengesahkan bacaan saya tentang faedah madu untuk menangani luka-luka, baik kecil mahupun besar. Walaupun banyak dakwaan yang menyebut bahawa langkah terbaik adalah hidrogen peroksida, iodin, plaster, apa-apa sajalah lagi, beberapa laman yang lain berjaya meyakinkan saya bahawa berbaloi untuk mencuba. It's just a small cut anyway.

Setelah tangan itu kering, saya cuci bersih-bersih, dan ke dapur sekali lagi. Saya curahkan setompok lagi madu ke atas jari yang luka, kemudian mengambil sekeping kapas muka dan membalut tempat tersebut. Supaya kemas dan rapi, saya lilit longgar balutan itu dengan pelekat. Tidak rasa pedih lagi, tetapi sejuk dan damai. Bangun pagi keesokannya, luka nampak kering dan bersih. Saya ingin meneruskan terapi alternatif ini tetapi apakan daya, untuk tujuan kebersihan dan keselamatan di hospital, saya terpaksa menutup luka dengan plaster konvensional.

***

Kalau luka, letakkan madu. Logik sebenarnya, selain daripada pesanan Nabi yang mewar-warkan penawar daripada manisan lebah ini. Kepekatan gula yang tinggi menyebabkan madu tidak kondusif untuk survival bakteria dan menyerap lembapan daripada luka. Menurut satu laman web yang saya temui juga, reaksi antara madu dengan aliran darah pada luka akan menghasilkan hidrogen peroksida yang bersifat antibakterial dengan kadar reaksi perlahan supaya tidak merosakkan tisu.

Apa-apalah. Luka saya sangat kecil sebenarnya, dan tempoh penggunaan madu juga terlalu ringkas untuk melayakkan sebarang kesimpulan peribadi tentang keberkesanan terapi alternatif ini. Saya sebenarnya sangat tertarik dengan konsep... kalau luka, letakkan madu.

***

Luka yang pedih, dalam, menyakitkan, berlaku kerana bermacam-macam sebab. Geseran ganas dengan aspal gelanggang sewaktu bersukan, mata pisau yang tergelincir di dapur, kelupasan kulit rengsa yang digaru-garu akibat cuaca dingin, atau boleh jadi cedera kerana melecur dan melecet. Bagaimana mahu dirawat? Cuci dan curahkan alkohol? Hidrogen peroksida? Iodin? Krim antibiotik? Kemudian dibalut, kemudian dibuka, dicuci, dan dicurahkan segala macam kimia lagi? Atau lebih drastik, seperti dalam filem-filem aksi, luka dicucuh api saja seperti Rambo. Untuk membunuh bakteria dan mengeringkan darah walaupun masalah melecur dan infeksi seterusnya pula akan menjadi hal.

Saya tidaklah menentang perubatan moden. Nama-nama dadah dan teknik pengurusan cedera itu sebahagian bidang pengajian saya. Namun ada kalanya, mungkin lebih baik, santun dan manis, kalau luka itu kita cuci, dan letakkan saja madu yang pekat dan manis untuk merawat dengan lemah lembut. Walaupun banyak kontroversi tentang terapi alternatif - segala dakwaan bahawa tiada bukti saintifik dan sebagainya - saya masih cenderung untuk yakin bahawa rawatan bersumberkan sesuatu yang semulajadi kemungkinan besar lebih baik daripada sesuatu yang dicipta di dalam makmal atau di kilang-kilang.

***

Seringkali - saya tidak tahu tentang orang lain, tetapi saya sendiri - seringkali, saya suka bertindak agresif dengan luka-luka sendiri. Bukan, bukan luka pada jari, tapi pada jiwa. Luka yang tidak nampak di kaki tetapi berladung dalam hati.

Mengakui bahawa telah gagal itu adalah kekalahan. Mengakui bahawa saya sedih, kecewa, dan mahu menangis adalah satu ketewasan. Mengakui bahawa saya sudah penat, tidak mampu, saya mahu berhenti, berehat, menolak taklifan, adalah kehinaan. Meminta simpati itu menjatuhkan maruah. Luka-luka yang ada, walaupun tidak semua, saya basuh dengan alkohol, konon ia akan mencuci segala bakteria dan membantutkan semua jangkitan.

Semakin penat, semakin luka, semakin kecewa, semakin tertekan dengan jangkaan manusia sekeliling dan interaksi sosial yang menyerabutkan, saya semakin galak bekerja, ligat ke sana-sini, mengambil tanggungan itu dan ini. Semakin keyakinan diri terjejas - ketika semua orang di sekeliling terasa lebih baik, lebih menarik, lebih beragama, lebih berilmu, lebih tenang, lebih segala-galanya daripada saya - semakin saya menjadi agresif. Membenteng diri daripada manusia sekeliling, lari daripada ikatan dan kasih sayang yang lebih daripada sekadar basa-basi sosial, konon ia melindungi daripada kekecewaan dan kehilangan di kemudian hari, menyelamatkan daripada kelemahan diri terdedah untuk dipersendakan semua. Menghabiskan waktu, mendesak diri, sehingga makan dan tidur tidak menentu, konon hanya dengan memanfaatkan setiap titis waktu dan usia sehabis-habisnyalah, saya dapat menjadi manusia yang lebih baik, atau setidak-tidaknya setanding dengan manusia-manusia hebat dan sempurna di sekeliling. Bukan untuk pujian atau pengiktirafan, tetapi supaya saya sendiri tidak berasa begitu leceh, lekeh, dan hina.

Untuk siapa sebenarnya saya bermati-matian? Reaktif begitu setiap kali dirempuh dugaan, setiap kali keyakinan diri teruji, setiap kali hati tergugat dengan cabaran dan tekanan, setiap kali 'luka' - adakah saya sebenarnya merawat cedera atau merosakkan tisu-tisu nurani hingga yang rawan jadi makin ruwet? Adakah Allah memandang semua pekerjaan saya atau sebenarnya hanya syaitan dan nafsu yang bertepuk tangan melihat saya merawat luka dengan tangan yang gasar, memujuk jiwa dengan kerja keras yang sia-sia?

Bukankah lebih baik, kalau luka, biarlah selebar atau sedalam manapun, saya tumpahkan saja madu? Tumpahkan, curahkan saja, mula-mula ia mungkin pedih ketika jasad batini yang tidak biasa dengan kemanisan yang tuntas, yang padu serupa itu, tetapi setelah ia meresap dan sebati, Allah, damainya, tentu Engkau saja yang tahu. Mabuknya nanti, dunia dan isinya akan menjadi serupa debu.

Apalah sangat tentang isu self-esteem, expectation, social barrier, dan lain-lain yang hanya tempekan-tempekan superfisial atau turisan-turisan licik syaitan kepada luka yang tidak sembuh-sembuh. Yang keruh bercampur percikan riya', takabbur, 'ujub, dan sum'ah yang merosakkan ikhlas sampai remuk berkeping-keping sebelum hancur seumpama tanah liat kering. Amal yang dikumpul separuh mati, semuanya dicampak kembali ke muka, kerana jasad batini yang tidak pandai dirawat lukanya, terlalu banyak cacat cela untuk layak masuk syurga.

Hidup ini tidak melampau rumit sebenarnya. Yang ada hanya luka dan botol madu, dahi dan sejadah, hamba dan Tuhannya.

Allah, janganlah rengkung ini sudah gersang kering hingga tidak ada ghairah lagi pada manisnya madu dari takarMu.

-katarsis-