Luigina, wanita berkarier dari Itali, pintar, sofistikated dan elegan. Feminis tegar, pejuang hak asasi wanita. Matanya yang galak bercahaya persis kilau harimau bintang yang pantang dicuba-cuba.
Najeehah, Muslimah 'konservatif' dari Indonesia. Mahasiswi tahun akhir pengajian Islam pesantren ulung di Aceh. Benar-benar teliti dalam merinci peribadi dan pergaulan, terutamanya muamalat dengan insan-insan bergelar lelaki. Wajahnya menjadi rahsia buat mereka yang bukan muhrimnya.
Siti Fatimah, gadis berdarah Melayu tulen, anak Malaysia, mengaku beragama Islam, mengaku memegang enam rukun iman, walaupun sekali pandang saling tak tumpah dengan Paris Hilton dalam segala segi. Ya, dia lebih suka dipanggil Emma.
Vaishnavi suri rumah dengan leluhur Brahmin. Agama, adat dan budaya berdenyut dalam setiap urat nadinya. Lima cahaya mata tanda cinta di sisi suami yang ditaati bagai dewa.
Camelia Chen aktivis humanitarian dari Taiwan, Kristian yang taat, artis rakaman dan menerima undangan nyanyian pada masa lapang. Ketawa ramahnya seperti loceng-loceng yang bergemerincing, orangnya ringkas dan riang selalu.
Mereka akan bicara tentang kesucian wanita. Tentang akhlak dan keruntuhannya. Tentang hak-hak wanita dan keadilan untuk wanita. Tentang signifikan lelaki dalam kehidupan wanita dan sebaliknya.
Kisah dan suara mereka akan berjalinan dalam SUCI.
InsyaAllah, nantikan.
Aha, jemput baca terjemahan tulisan Cikgu Faisal - Perempuan Anggerik, oleh Noraini Md Yusof, jadinya The Orchid Lady. Walaupun sebahagian jiwa karya hilang dengan berubahnya bahasa, inti kisah dan mesej tetap ada. Baca, fikir dan rasai.
assalamualaikum,
meow~
Tuesday, June 12, 2007
Friday, June 01, 2007
Muhasabah I
In the name of Allah, the Most Merciful, the Most Compassionate.
By the dawn,
And the ten nights,
And by the night when it departs.
Is there in this an oath for one endowed with understanding?
Have you not seen how your Lord dealt with 'Ad
of Iram, known for their lofty columns,
the like of whom no nation was ever created in the lands of the world?
And how did He deal with Thamud who hewed out rocks in the valley?
And with Pharaoh of the tent pegs
who transgressed in the countries of the world,
spreading in them much corruption?
Then their Lord unloosed upon them the lash of chastisement.
Truly your Lord is ever watchful.
As for man, when his Lord tests him by exalting him and bestowing His bounties upon him, he says: "My Lord has exalted me."
But when He tests them by straitening his sustenance, he says: "My Lord has humiliated me." *
But no, you do not treat the orphan honorably,
and do not urge one another to feed the poor,
and greedily devour the entire inheritance,
and love the riches, loving them ardently.
-*This, then, is man's materialistic concept of life. Man equates wealth, position and power in the world with the bestowal of honour; and when he is deprived of these, he thinks God has humiliated him. The fact which he fails to grasp is that whatever God gives anyone in this world is by way of a test. One is tested both when one has wealth and power as well as when one is in a state of poverty and destitution.-
But no, when the earth is ground to powder,
and when your Lord appears with rows upon rows of angels,
and when Hell is brought near that Day. On that Day will man understand, but of what avail will that understanding be?
He will say: "Would that I had sent ahead what would be of avail for this life of mine!"
Then on that Day Allah will chastise as none other can chastise,
and Allah will bind as none other can bind.
(On the other hand it will be said) : "O serene soul! **
Return to your Lord well-pleased (with your blissful destination), well-pleasing (to your Lord).
So enter among My (righteous) servants
and enter My Paradise."
-**The expression 'serene soul' signifies the person who accepts, with full conviction, the One True God as his Lord and Sustainer, and recognizes the religious faith expounded by the Prophets as the True Faith.-
Terjemahan dan tafsir Surah Al-Fajr, ayat 1-30.
Dari Towards Understanding The Quran, Sayyid Abul A'la Mawdudi, dialihbahasa dan diedit oleh Zafar Ishaq Ansari, terbitan The Islamic Foundation.
meow~~
By the dawn,
And the ten nights,
And by the night when it departs.
Is there in this an oath for one endowed with understanding?
Have you not seen how your Lord dealt with 'Ad
of Iram, known for their lofty columns,
the like of whom no nation was ever created in the lands of the world?
And how did He deal with Thamud who hewed out rocks in the valley?
And with Pharaoh of the tent pegs
who transgressed in the countries of the world,
spreading in them much corruption?
Then their Lord unloosed upon them the lash of chastisement.
Truly your Lord is ever watchful.
As for man, when his Lord tests him by exalting him and bestowing His bounties upon him, he says: "My Lord has exalted me."
But when He tests them by straitening his sustenance, he says: "My Lord has humiliated me." *
But no, you do not treat the orphan honorably,
and do not urge one another to feed the poor,
and greedily devour the entire inheritance,
and love the riches, loving them ardently.
-*This, then, is man's materialistic concept of life. Man equates wealth, position and power in the world with the bestowal of honour; and when he is deprived of these, he thinks God has humiliated him. The fact which he fails to grasp is that whatever God gives anyone in this world is by way of a test. One is tested both when one has wealth and power as well as when one is in a state of poverty and destitution.-
But no, when the earth is ground to powder,
and when your Lord appears with rows upon rows of angels,
and when Hell is brought near that Day. On that Day will man understand, but of what avail will that understanding be?
He will say: "Would that I had sent ahead what would be of avail for this life of mine!"
Then on that Day Allah will chastise as none other can chastise,
and Allah will bind as none other can bind.
(On the other hand it will be said) : "O serene soul! **
Return to your Lord well-pleased (with your blissful destination), well-pleasing (to your Lord).
So enter among My (righteous) servants
and enter My Paradise."
-**The expression 'serene soul' signifies the person who accepts, with full conviction, the One True God as his Lord and Sustainer, and recognizes the religious faith expounded by the Prophets as the True Faith.-
Terjemahan dan tafsir Surah Al-Fajr, ayat 1-30.
Dari Towards Understanding The Quran, Sayyid Abul A'la Mawdudi, dialihbahasa dan diedit oleh Zafar Ishaq Ansari, terbitan The Islamic Foundation.
meow~~
Saturday, May 19, 2007
garis dan noktah
Setelah membasahkan kuburan Uda
dengan air mata
tumbuh semulakah pohon cinta
di kebun kasih Dara?
atau janji yang pernah diikat
simpulannya tertimbus dalam pusara
hanya sesudah bumi terbongkar
setelah dunia bertemu hujung
hidup dan mati menjadi satu
mungkin waktu itu, melunaskan rindu.
Kadang-kadang, garis yang terputus
apabila pena terangkat
tidak perlukan sambungan penerus
selain noktah.
dengan air mata
tumbuh semulakah pohon cinta
di kebun kasih Dara?
atau janji yang pernah diikat
simpulannya tertimbus dalam pusara
hanya sesudah bumi terbongkar
setelah dunia bertemu hujung
hidup dan mati menjadi satu
mungkin waktu itu, melunaskan rindu.
Kadang-kadang, garis yang terputus
apabila pena terangkat
tidak perlukan sambungan penerus
selain noktah.
Ah, duri akan kalah sesudah patah!
meow~
Wednesday, May 16, 2007
rangkaian renungan - II
Satu
Petang itu saya tergesa-gesa ke bandar. Mahu menghantar seorang sahabat dari 'pekan sebelah' yang berhujung minggu di sini. Dalam bas, saya memilih untuk berdiri berhampiran tempat pemandu di hadapan, perjalanan yang sekejap rasa saya leceh saja untuk duduk dan berhimpit dengan orang.
Ada dua kerusi di belakang saya, diduduki oleh dua orang perempuan tua. Di hadapan saya, ada dua kerusi yang selari dengan dinding bas. Betul-betul di sebelah saya adalah seorang perempuan tua juga, dan di sebelahnya, seorang perempuan kulit putih yang selekeh, barangkali pertengahan tiga puluhan.
Rambut yang diikat seadanya berserabai. Pakaian yang memang mendedahkan di sana sini kelihatan buruk tidak bergaya, yang dibeli dekat Oxfam pun mungkin lebih menarik rupanya barangkali. Mukanya lusuh tidak bertenaga. Dia sedang bercakap dalam telefon tangan dengan kasar, sesekali melaung ke arah seseorang yang duduk agak terkebelakang dalam bas itu, saya tidak perasan siapa.
Saya memerhati sahaja. Perasaan bercampur-aduk. Lebih memikirkan sahabat di stesen kereta api, sempatkah saya menghantarnya sebelum kereta api berlepas?
Perempuan selekeh berambut serabai memegang satu botol kaca - entah dari mana datangnya. Saya 90% pasti botol itu adalah botol arak. Terkial-kial cuba membuka tutup botol itu pada tubir dinding yang memisahkan ruang pemandu dengan penumpang. Aih, tak hygienic langsung. Percubaan berkali-kali tidak berjaya, perempuan selekeh berambut serabai tidak putus asa. Akhirnya tutup botol terpokah, air kekuningan - ah apa-apa air sajalah dalam botol itu - diteguk penuh nikmat.
Satu perhentian. Perempuan tua yang betul-betul di sebelah saya bangun dan turun. Kerusi di situ kosong. Di sebelah perempuan selekeh berambut serabai. Saya tidak teragak-agak memutuskan untuk tidak mahu duduk.
Salahkah saya? Diskriminasi? Judgmental? Saya akui, saya jijik untuk duduk di sebelah perempuan selekeh berambut serabai yang membuka tutup botol di tubir dinding dan rakus meneguk air yang mungkin sekali arak. Saya tidak marah, apatah lagi benci. Malah ada bibit-bibit simpati. Saya terus buat muka selamba, terus berdiri memaut tiang, membiarkan kerusi itu kosong.
Seorang perempuan kulit hitam menaiki bas, menyorong kereta tolak bayi. Ada anak kecil di dalamnya. Duduk di barisan kerusi yang lagi satu, di sebelah kiri saya, bertentangan dengan perempuan selekeh berambut serabai. Anak kecil di dalam kereta tolak memandang perempuan selekeh berambut serabai. Perempuan selekeh berambut serabai tersenyum melihat si anak kecil, seperti ada keriangan di wajahnya yang tadi gelisah. Dia mengacah-acah si anak kecil. Kepada si ibu dia memuji-muji kecomelan anak kecil itu. Hati saya tersentuh.
Sampai ke perhentian Piccadilly. Saya berpapasan dengan seorang lelaki selekeh dengan sebelah lengannya berbalut dari pergelangan sampai ke siku, tergantung ala-ala anduh untuk orang patah tangan. Saya nampak dia berdiri bersama perempuan selekeh berambut serabai tadi, tertinjau-tinjau ke sana ke mari dan bercakap sesama sendiri dengan intonasi ruwet. Oh itukah temannya? Pasangannya? Atau abangnya? Atau suaminya?
Apakah cerita hidup mereka? Belang apakah yang mewarnainya, dan adakah ia akan berubah warna?
Dua
Saya mengidam mahu makan faluda. Saya juga mengidam mahu makan nasi di Jazera. Seperti selalu, saya selesa keluar bersendirian, ketika kaki dihayun, mata melihat manusia dan alam, fikiran bebas mencerna erti kehidupan dan menerawang dengan pelbagai kisah serta persoalan.
Usai membeli faluda, saya masuk ke restoran Jazera, memesan makanan dan duduk seorang diri di sebuah meja berhampiran pintu masuk, bertentangan dengan dinding kaca yang menghadap jalan raya. Selamba menghirup faluda sambil menunggu pesanan selesai disediakan. Oh ya, sambil membuka buku anatomi Snell. Pedulikan siapa mahu memandang. Sejak kecil saya begini, di mana-mana sahaja saya suka membaca apa sahaja sambil makan apa sahaja, di mana-mana sahaja. Aha, mungkin tidak di rumah saudara-mara yang suka mengomel atau rumah 'bakal mentua' =), atau bila-bila tertib perlu lebih teliti dijaga.
Tenggelam dalam dunia saya sendiri - seperti selalu, ya - tidak perasan seorang lelaki masuk bersama anaknya. Tercegat di sisi meja saya.
"Please, can you give me some money, for food.." si lelaki, barangkali si bapa, merayu.
Anak lelakinya, barangkali berusia empat atau lima tahun, merenung saya dengan wajah sedih. Menghulur tangan.
Pedulikan sama ada mereka itu penipu atau pemalas. Siapakah yang dapat menolak renungan mata tulus itu, menepis tangan kerdil yang meminta itu?
Mereka beredar ke meja-meja lain. Dan sebelum keluar, mereka melintas di tepi meja saya. Si bapa memandang ke arah saya, tersenyum dan mengangkat tangan - tanda hormat atau terima kasih atau apa sahaja, saya tidak tahu.
Apakah cerita hidup mereka? Belang apakah yang mewarnainya, dan adakah ia akan berubah warna?
salam sayang, merenung lapis-lapis makna dan cerita kehidupan.
meow~
Monday, April 30, 2007
Empati dan Penghayatan
Assalamualaikum.
Saya rindukan Aisyah Zaatiyah, lagaknya yang mengada-ngada, tawa riangnya, tangis sesalnya, luahan rindunya, dan ikrar juangnya. Dinamisme perwatakannya yang realistik bergerak daripada seorang wanita biasa yang naif tentang gasarnya kehidupan dan dangkal tentang makna cinta, mendaki setapak demi setapak melalui sengsara dan ujian, takah-takah katarsis yang dilalui, yang mana kemuncaknya kehilangan suami belahan jiwa yang dicari-cari, akhirnya membawa Aisyah Zaatiyah mengenali hakikat cinta yang transendental, melampaui dunia fizikal yang maya. Tidak keterlaluan kalau saya bicarakan kisahnya sebagai seorang Zulaikha yang gagal ketemu Yusufnya, lantas menghampar sejadah cinta menjadi Rabiatul Adawiyah, namun suluknya tidak di gua, tapi di lapangan derita manusia, menghulur bakti seperti renjisan embun syurga.
Garapan, produksi dan pementasan perjalanan kisah cinta ini, memakan masa berbulan-bulan, lebih daripada perjalanan teknikal buat saya. Lebih daripada sekadar lelah superficial seorang penulis yang mengarang skrip untuk memenuhi tema, seorang pengarah yang mahu pelakon-pelakonnya memberi persembahan terbaik guna mempesonakan penonton, seorang pengarah muzik yang mencari muzik paling sesuai untuk membantu penghayatan pelakon dan memainkan emosi penonton. Resmi kesenian yang saya pegang sejak lama, mahakarya terbaik, penulisan atau pengarahan, adalah yang lahir daripada hati. Benar-benar daripada hati. Setiap patah kata yang tertulis, setiap lenggok gerak yang dilakonkan, biar jangan mendustai hati sendiri.
Aisyah Zaatiyah Mencari Cinta - atau nama pentasnya, Harum Cinta Aisyah - adalah suara saya. Saya meletakkan hati saya sepenuhnya dalam produksi ini, sejak skrip ini ditulis, sehinggalah tirai pentas ditutup pada malam pementasan. Kisah yang dipentaskan di atas pentas itu, saya rasakan seperti kisah saya. Empati dan penghayatan ini penting, kepekaan saya perlu pada tahap tertinggi, kerana saya ingin menyentuh hati-hati insan, dan hati akan tersentuh dengan hati juga.
Ketika Taufiq mengeluh kerana sukarnya Aisyah memahami perjuangannya, saya mengerti gelodak rasanya sebagai suami, sebagai perawat, sebagai hamba Allah yang punya tanggungjawab. Saya juga mengerti kejahilan Aisyah, penyesalannya, dan cintanya. Tulus kasih Mek yang lurus setia menemani, Mek yang sudah mengerti masinnya gula dan manisnya garam (ya, seringkali gula itu masin dan garam itu yang manis), Mek dengan kudrat dan jiwa tuanya yang menzahirkan setiap perasaan yang halus-halus dengan kejujuran yang polos. Ibu Tempawan yang redha namun masih parah terluka diburu kenangan cintanya yang dirampas tsunami, terbang melayang bersama genggaman suami yang dilepaskan sebagai harga nyawanya. Pak Menteri yang materialis-kapitalis, serta isterinya yang memaknakan cinta dengan lagak gracious di depan khalayak seperti Evita Perone atau Suha Arafat.
Setiap kali Aisyah menangis, air mata saya bergenang. Apabila Aisyah meraung ketika menyedari separuh mataharinya ditelan tsunami yang merampas Taufiq, saya turut merasakan gelapnya dunia.
Saya memahami jiwa raga setiap watak yang dipentaskan, dan saya sungguh-sungguh gembira melihat pelakon-pelakon saya berjaya mementaskannya dengan sesempurna mungkin.
Sukar saya bayangkan betapa marahnya saya apabila skrip yang saya olah seperti mengukir kulit telur, seperti memahat batuan sungai, disuruh, atau dipaksa, ubah. Walaupun sepatah perkataan, nilainya tinggi untuk saya. Ubah untuk 'menurunkan' sensitiviti kononnya. Ah, tak mengapa. Dunia ini seperti cereka juga. Sebelum kita punya kuasa, terpaksa akurlah dahulu kepada yang punya kuasa! Mujurnya pementasan Dublin mengekalkan isi asal. Ya, walaupun kebebasan bersuara itu diatur-atur 'persempadanan semula'nya oleh sesiapa yang punya autoriti, pandai-pandailah mengelat dan menyelinap, bak kata Prof Khoo Kay Kim, kalau anda sendiri yang malas membuat kajian, takut membuat penulisan, culas mencari peluang penerbitan, jangan salahkan kebebasan bersuara yang kononnya penuh sekatan!
Balik kepada tajuk asal artikel ini, empati dan penghayatan. Besar sekali nilai dua konsep ini dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar di pentas seni sahaja =).
Empati, secara mudahnya, definisinya adalah meletakkan diri kita di tempat pihak yang lain. Putting ourselves in other people's shoes. Apakah rasanya andai saya menjadi dia? Menjadi Aisyah Zaatiyah? Menjadi mereka? Menjadi penduduk kampung yang disodok bulldozer dan dihentak batang-batang kayu para barua menteri itu? Dalam bidang perubatan, empati terhadap pesakit adalah satu aspek yang sangat penting. Kita perlu berusaha meletakkan diri di tempat mereka, mereka yang mungkin baru disahkan menghidap kanser, mungkin baru kehilangan anak, mungkin masih dalam proses pemulihan diabetes yang kronik. Kehadiran empati akan mendatangkan pemahaman yang tulus, yang jujur, yang akan mendatangkan keikhlasan dalam bermuamalat.
Berbeza dengan simpati yang bagi saya bersifat 'jauh', 'dari aku untuk kamu', seperti wujud 'benteng' yang menjarakkan antara si pemberi dan penerima simpati kerana simpati tidak perlu kepada kefahaman dan penghayatan yang sebenar-benarnya tentang keadaan si mangsa. Sedangkan empati lebih daripada itu. Empati adalah penghayatan tentang keadaan satu pihak yang lain, berusaha 'menjadi' pihak itu, yang akan menghadirkan perasaan yang ikhlas, tidak perlu dipaksa-paksa. Dalam perubatan empati signifikan dalam usaha untuk memberikan khidmat yang terbaik kepada pesakit mengikut keperluan mereka, untuk melayani pesakit sebaik mungkin tanpa menghakimi mereka dengan cara yang tidak sepatutnya. Dalam pementasan, empati - dan penghayatan - perlu untuk persembahan yang realistik. Yang jujur. Lakonan yang bukan lakonan.
Saya selalu berpesan kepada 'Aisyah' saya, dia bukan 'XXX'(namanya), dia adalah 'Aisyah'. Saya sangat-sangat teringat suatu malam, malam latihan terakhir kami - yang dilakukan dalam bilik dobi di tingkat bawah tanah Grosvenor Place selepas dihalau dari dewan kerana sudah larut malam dan tidak ketemu lain tempat - selepas dia meratapi kematian Taufiq untuk kesekian kalinya, saya bertanya dia. "Tadi, kau XXX ke Aisyah?!" Dia menjawab. "Aku Aisyah."
Alhamdulillah, dia benar-benar menjadi 'Aisyah Zaatiyah' yang membawa penonton berasa jelak dengan gelagatnya, ketawa dengan kenakalannya, dan menangis bersama-sama rintihannya.
Untuk mendapatkan empati dan penghayatan, perlu kenal dan faham perwatakan yang hendak dihayati. Mana mungkin saya dapat berempati dengan pesakit yang baru dikenal kalau duduk perkara masalahnya sepatah pun tidak saya tahu? Mana mungkin XXX dapat berempati dan menjadi 'Aisyah', jika siapa Aisyah, dia tidak kenal?
Persoalan ini membawa kita kepada satu persoalan. Persoalan UTAMA sebenarnya yang ingin saya tujukan buat kita semua. Kita selalu mendengar bahawa hidup ini adalah satu lakonan. Dunia ini pentas yang besar, dengan aturan skrip yang sudah ditetapkan, yang perlu kita pilih sama ada mahu melakonkan watak baik atau watak jahat, kerana kesudahannya sesudah tirai ditutup bergantung kepada pilihan kita. Ah tidak sebenarnya, bergantung kepada sejauh mana kita menghayati perwatakan watak yang menjadi pilihan kita.
Kita mungkin punya banyak wajah dalam dunia ini. Wajah seorang anak, seorang adik, seorang kakak, seorang kekasih, seorang pelajar, atau seorang doktor, ah apa-apa sahaja. Tapi esennya, patinya, dasarnya, adalah satu watak sahaja. Iaitu watak seorang hamba, yang tidak memperhambakan diri melainkan kepada Allah S.W.T. yang menciptanya dan memilikinya.
Watak dan perwatakan inilah yang akan menyelamatkan kita, di dunia dan di akhirat. Sejauh manakah kita berempati dengan perwatakan ini? Mengenali dan memahaminya, sehingga dapat melakonkannya dengan sebaik mungkin? Kenalkah kita tentang watak si hamba ini, fahamkah kita tentang perwatakannya, empatikah kita tentang perasaan dan kedudukannya, lantas persoalan utamanya, adakah kita mampu membawa wataknya? Atau kita tidak kenal..
Mampukah kita memadamkan, menyingkirkan dan melupakan segala perwatakan lain yang kita miliki, yang kita empati, yang tidak sesuai dengan perwatakan cemerlang si hamba ini? Mampukah kita menyisihkan segala perwatakan lain yang kita miliki, yang kita empati, yang dapat mengganggu atau menyekat kita daripada menzahirkan perwatakan cemerlang si hamba ini? Mampukah kita menyesuaikan perwatakan cemerlang si hamba ini dalam setiap cerita yang kita lakonkan - pelajar universiti yang hamba, anak yang hamba, sahabat yang hamba, sehingga perwatakan hamba itu berdenyut dalam setiap degup jantung dan terpancar dalam setiap gerak laku seperti melakonkan skrip yang sudah dihafaz sepenuh hati sehingga tidak terasa seperti berlakon lagi? Jika masih terasa seperti berlakon, seperti menghafal skrip yang ingat-tidak-ingat dan tersekat-sekat, sesungguhnya perjalanan masih jauh..
Satu contoh empati dan penghayatan yang mudah dalam kehidupan sehari-hari. Ketika di atas sejadah, lima waktu menghadap Allah. Alangkah sedihnya apabila ketika itulah segala macam perwatakan mahu mengambil tempat. Ketika itu terasalah diri ini pelajar yang disibukkan dengan segala macam kerja - ah tugasan menimbun, temujanji dengan tutor, portfolio yang perlu disudahkan. Ketika itu terasalah diri ini anak yang terpisah jauh daripada ibu bapanya - aduh rindunya suara emak, comelnya ketawa adik. Ketika itu terasalah diri ini sahabat yang popular - bagaimana tadi ada yang mengajak ke rumah, sebentar lagi keluar makan bersama.
Payah benar bukan untuk menghayati perwatakan seorang hamba - seorang hamba dan tidak lain melainkan hamba - pada lima minit pendek itu sahaja, lima waktu sehari semalam sahaja? Inikan pula dalam ratusan minit yang lain.
Ketika itu kalau ditanya, "Perwatakan apa yang engkau pegang tadi? Adakah engkau hamba kerja-kerjamu, hamba sahabat-sahabatmu, atau hamba Allah?" ...
Saya gerun menuliskan jawapannya.
Ya Allah, ampunilah segala dosa dan keterlanjuran kami. Bantulah kami menjadi hambaMu yang sebenar-benarnya, yang mencintai dan dicintai olehMu.
salam,
meow~
Saya rindukan Aisyah Zaatiyah, lagaknya yang mengada-ngada, tawa riangnya, tangis sesalnya, luahan rindunya, dan ikrar juangnya. Dinamisme perwatakannya yang realistik bergerak daripada seorang wanita biasa yang naif tentang gasarnya kehidupan dan dangkal tentang makna cinta, mendaki setapak demi setapak melalui sengsara dan ujian, takah-takah katarsis yang dilalui, yang mana kemuncaknya kehilangan suami belahan jiwa yang dicari-cari, akhirnya membawa Aisyah Zaatiyah mengenali hakikat cinta yang transendental, melampaui dunia fizikal yang maya. Tidak keterlaluan kalau saya bicarakan kisahnya sebagai seorang Zulaikha yang gagal ketemu Yusufnya, lantas menghampar sejadah cinta menjadi Rabiatul Adawiyah, namun suluknya tidak di gua, tapi di lapangan derita manusia, menghulur bakti seperti renjisan embun syurga.
Garapan, produksi dan pementasan perjalanan kisah cinta ini, memakan masa berbulan-bulan, lebih daripada perjalanan teknikal buat saya. Lebih daripada sekadar lelah superficial seorang penulis yang mengarang skrip untuk memenuhi tema, seorang pengarah yang mahu pelakon-pelakonnya memberi persembahan terbaik guna mempesonakan penonton, seorang pengarah muzik yang mencari muzik paling sesuai untuk membantu penghayatan pelakon dan memainkan emosi penonton. Resmi kesenian yang saya pegang sejak lama, mahakarya terbaik, penulisan atau pengarahan, adalah yang lahir daripada hati. Benar-benar daripada hati. Setiap patah kata yang tertulis, setiap lenggok gerak yang dilakonkan, biar jangan mendustai hati sendiri.
Aisyah Zaatiyah Mencari Cinta - atau nama pentasnya, Harum Cinta Aisyah - adalah suara saya. Saya meletakkan hati saya sepenuhnya dalam produksi ini, sejak skrip ini ditulis, sehinggalah tirai pentas ditutup pada malam pementasan. Kisah yang dipentaskan di atas pentas itu, saya rasakan seperti kisah saya. Empati dan penghayatan ini penting, kepekaan saya perlu pada tahap tertinggi, kerana saya ingin menyentuh hati-hati insan, dan hati akan tersentuh dengan hati juga.
Ketika Taufiq mengeluh kerana sukarnya Aisyah memahami perjuangannya, saya mengerti gelodak rasanya sebagai suami, sebagai perawat, sebagai hamba Allah yang punya tanggungjawab. Saya juga mengerti kejahilan Aisyah, penyesalannya, dan cintanya. Tulus kasih Mek yang lurus setia menemani, Mek yang sudah mengerti masinnya gula dan manisnya garam (ya, seringkali gula itu masin dan garam itu yang manis), Mek dengan kudrat dan jiwa tuanya yang menzahirkan setiap perasaan yang halus-halus dengan kejujuran yang polos. Ibu Tempawan yang redha namun masih parah terluka diburu kenangan cintanya yang dirampas tsunami, terbang melayang bersama genggaman suami yang dilepaskan sebagai harga nyawanya. Pak Menteri yang materialis-kapitalis, serta isterinya yang memaknakan cinta dengan lagak gracious di depan khalayak seperti Evita Perone atau Suha Arafat.
Setiap kali Aisyah menangis, air mata saya bergenang. Apabila Aisyah meraung ketika menyedari separuh mataharinya ditelan tsunami yang merampas Taufiq, saya turut merasakan gelapnya dunia.
Saya memahami jiwa raga setiap watak yang dipentaskan, dan saya sungguh-sungguh gembira melihat pelakon-pelakon saya berjaya mementaskannya dengan sesempurna mungkin.
Sukar saya bayangkan betapa marahnya saya apabila skrip yang saya olah seperti mengukir kulit telur, seperti memahat batuan sungai, disuruh, atau dipaksa, ubah. Walaupun sepatah perkataan, nilainya tinggi untuk saya. Ubah untuk 'menurunkan' sensitiviti kononnya. Ah, tak mengapa. Dunia ini seperti cereka juga. Sebelum kita punya kuasa, terpaksa akurlah dahulu kepada yang punya kuasa! Mujurnya pementasan Dublin mengekalkan isi asal. Ya, walaupun kebebasan bersuara itu diatur-atur 'persempadanan semula'nya oleh sesiapa yang punya autoriti, pandai-pandailah mengelat dan menyelinap, bak kata Prof Khoo Kay Kim, kalau anda sendiri yang malas membuat kajian, takut membuat penulisan, culas mencari peluang penerbitan, jangan salahkan kebebasan bersuara yang kononnya penuh sekatan!
Balik kepada tajuk asal artikel ini, empati dan penghayatan. Besar sekali nilai dua konsep ini dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar di pentas seni sahaja =).
Empati, secara mudahnya, definisinya adalah meletakkan diri kita di tempat pihak yang lain. Putting ourselves in other people's shoes. Apakah rasanya andai saya menjadi dia? Menjadi Aisyah Zaatiyah? Menjadi mereka? Menjadi penduduk kampung yang disodok bulldozer dan dihentak batang-batang kayu para barua menteri itu? Dalam bidang perubatan, empati terhadap pesakit adalah satu aspek yang sangat penting. Kita perlu berusaha meletakkan diri di tempat mereka, mereka yang mungkin baru disahkan menghidap kanser, mungkin baru kehilangan anak, mungkin masih dalam proses pemulihan diabetes yang kronik. Kehadiran empati akan mendatangkan pemahaman yang tulus, yang jujur, yang akan mendatangkan keikhlasan dalam bermuamalat.
Berbeza dengan simpati yang bagi saya bersifat 'jauh', 'dari aku untuk kamu', seperti wujud 'benteng' yang menjarakkan antara si pemberi dan penerima simpati kerana simpati tidak perlu kepada kefahaman dan penghayatan yang sebenar-benarnya tentang keadaan si mangsa. Sedangkan empati lebih daripada itu. Empati adalah penghayatan tentang keadaan satu pihak yang lain, berusaha 'menjadi' pihak itu, yang akan menghadirkan perasaan yang ikhlas, tidak perlu dipaksa-paksa. Dalam perubatan empati signifikan dalam usaha untuk memberikan khidmat yang terbaik kepada pesakit mengikut keperluan mereka, untuk melayani pesakit sebaik mungkin tanpa menghakimi mereka dengan cara yang tidak sepatutnya. Dalam pementasan, empati - dan penghayatan - perlu untuk persembahan yang realistik. Yang jujur. Lakonan yang bukan lakonan.
Saya selalu berpesan kepada 'Aisyah' saya, dia bukan 'XXX'(namanya), dia adalah 'Aisyah'. Saya sangat-sangat teringat suatu malam, malam latihan terakhir kami - yang dilakukan dalam bilik dobi di tingkat bawah tanah Grosvenor Place selepas dihalau dari dewan kerana sudah larut malam dan tidak ketemu lain tempat - selepas dia meratapi kematian Taufiq untuk kesekian kalinya, saya bertanya dia. "Tadi, kau XXX ke Aisyah?!" Dia menjawab. "Aku Aisyah."
Alhamdulillah, dia benar-benar menjadi 'Aisyah Zaatiyah' yang membawa penonton berasa jelak dengan gelagatnya, ketawa dengan kenakalannya, dan menangis bersama-sama rintihannya.
Untuk mendapatkan empati dan penghayatan, perlu kenal dan faham perwatakan yang hendak dihayati. Mana mungkin saya dapat berempati dengan pesakit yang baru dikenal kalau duduk perkara masalahnya sepatah pun tidak saya tahu? Mana mungkin XXX dapat berempati dan menjadi 'Aisyah', jika siapa Aisyah, dia tidak kenal?
Persoalan ini membawa kita kepada satu persoalan. Persoalan UTAMA sebenarnya yang ingin saya tujukan buat kita semua. Kita selalu mendengar bahawa hidup ini adalah satu lakonan. Dunia ini pentas yang besar, dengan aturan skrip yang sudah ditetapkan, yang perlu kita pilih sama ada mahu melakonkan watak baik atau watak jahat, kerana kesudahannya sesudah tirai ditutup bergantung kepada pilihan kita. Ah tidak sebenarnya, bergantung kepada sejauh mana kita menghayati perwatakan watak yang menjadi pilihan kita.
Kita mungkin punya banyak wajah dalam dunia ini. Wajah seorang anak, seorang adik, seorang kakak, seorang kekasih, seorang pelajar, atau seorang doktor, ah apa-apa sahaja. Tapi esennya, patinya, dasarnya, adalah satu watak sahaja. Iaitu watak seorang hamba, yang tidak memperhambakan diri melainkan kepada Allah S.W.T. yang menciptanya dan memilikinya.
Watak dan perwatakan inilah yang akan menyelamatkan kita, di dunia dan di akhirat. Sejauh manakah kita berempati dengan perwatakan ini? Mengenali dan memahaminya, sehingga dapat melakonkannya dengan sebaik mungkin? Kenalkah kita tentang watak si hamba ini, fahamkah kita tentang perwatakannya, empatikah kita tentang perasaan dan kedudukannya, lantas persoalan utamanya, adakah kita mampu membawa wataknya? Atau kita tidak kenal..
Mampukah kita memadamkan, menyingkirkan dan melupakan segala perwatakan lain yang kita miliki, yang kita empati, yang tidak sesuai dengan perwatakan cemerlang si hamba ini? Mampukah kita menyisihkan segala perwatakan lain yang kita miliki, yang kita empati, yang dapat mengganggu atau menyekat kita daripada menzahirkan perwatakan cemerlang si hamba ini? Mampukah kita menyesuaikan perwatakan cemerlang si hamba ini dalam setiap cerita yang kita lakonkan - pelajar universiti yang hamba, anak yang hamba, sahabat yang hamba, sehingga perwatakan hamba itu berdenyut dalam setiap degup jantung dan terpancar dalam setiap gerak laku seperti melakonkan skrip yang sudah dihafaz sepenuh hati sehingga tidak terasa seperti berlakon lagi? Jika masih terasa seperti berlakon, seperti menghafal skrip yang ingat-tidak-ingat dan tersekat-sekat, sesungguhnya perjalanan masih jauh..
Satu contoh empati dan penghayatan yang mudah dalam kehidupan sehari-hari. Ketika di atas sejadah, lima waktu menghadap Allah. Alangkah sedihnya apabila ketika itulah segala macam perwatakan mahu mengambil tempat. Ketika itu terasalah diri ini pelajar yang disibukkan dengan segala macam kerja - ah tugasan menimbun, temujanji dengan tutor, portfolio yang perlu disudahkan. Ketika itu terasalah diri ini anak yang terpisah jauh daripada ibu bapanya - aduh rindunya suara emak, comelnya ketawa adik. Ketika itu terasalah diri ini sahabat yang popular - bagaimana tadi ada yang mengajak ke rumah, sebentar lagi keluar makan bersama.
Payah benar bukan untuk menghayati perwatakan seorang hamba - seorang hamba dan tidak lain melainkan hamba - pada lima minit pendek itu sahaja, lima waktu sehari semalam sahaja? Inikan pula dalam ratusan minit yang lain.
Ketika itu kalau ditanya, "Perwatakan apa yang engkau pegang tadi? Adakah engkau hamba kerja-kerjamu, hamba sahabat-sahabatmu, atau hamba Allah?" ...
Saya gerun menuliskan jawapannya.
Ya Allah, ampunilah segala dosa dan keterlanjuran kami. Bantulah kami menjadi hambaMu yang sebenar-benarnya, yang mencintai dan dicintai olehMu.
salam,
meow~
Wednesday, April 25, 2007
Wangi Kembang Cinta Musim Semi
assalamualaikum.
Alhamdulillah, mental dan fizikal saya masih sihat dan diizinkan sekali lagi untuk kembali melarik sesuatu di laman ini setelah begitu lama (saya kira) menyepi. Bukan jemu, jauh sekali hangat-hangat tahi ayam, tetapi kesibukan yang terlalu memaksa saya sekadar merenung laman yang tidak berganti baru wajahnya. Ya, bukan anda sahaja yang bosan melihat entri lama tidak bertukar! :-)
Banyak yang ingin saya ceritakan, yang ingin saya kongsikan bersama. Nanti-nantilah, kalau panjang usia, kalau diizinkan Allah, tertulislah semuanya. Yang menentukan sama ada sesuatu itu terucap atau tidak, tersebar atau tidak, adalah Allah, bukannya manusia dan segala undang-undang sekatan bersuara mereka, bukan?
Tutur pujangga, siapa makan cili, dialah yang terasa pedas. Kalau tiada angin (atau beruk di atas pokok, kata seorang kawan), masakan pokok akan bergoyang? Kalau sendiri tidak menyalakan api, kenapa harus melenting apabila asap dirungut-rungutkan?
Membaca tulisan-tulisan Usman Awang, Pak Sako, Abdullah Hussain, Faisal Tehrani (sekadar menyebut beberapa nama), jelas terlihat manusia-manusia sastera, anak seni yang halus jiwanya melontarkan kritikan melalui susunan karya yang santun dan indah, dari jiwa sampai ke jiwa, seperti nadi kepada kesedaran umat yang bernyawa.
Ya, 'orang sastera' betapapun stereotaip yang diwara-warakan tentang mereka, hakikatnya mereka dianugerahi Allah dengan pemerhatian yang sensitif dan daya ekspresi yang tinggi. Hikmah kehadiran mereka yang sebenarnya hanya Allah yang Maha Mengetahui, tetapi pada nilaian zahir manusia seperti saya yang pincang serba-serbi ini, mereka hadir supaya umat punya suara.
Keriangan dan kesedihan itu perasaan setiap manusia. Melihat kekejaman dan kezaliman, siapa sahaja (yang normal dan belum dilegapkan fitrahnya) akan berasa tidak puas hati, ingin berontak. Melihat kemiskinan dan ketidakadilan, insan berhati insan akan berasa duka dan simpati. Apabilabermain dengan cinta dan dikunjungi oleh bahagia , manusia akan bersyukur dan gembira.
Tapi tidak semua mereka yang punya perasaan itu punya suara, punya kekuatan, punya iltizam untuk meluahkan. Malah mungkin juga tidak punya kemahiran. Sudahnya, adakah perasaan yang mendongkol dalam dada umat itu tinggal terbuku tidak disuarakan? Seperti bara-bara kecil yang bekerdip, cahayanya tidak cukup kuat untuk dilihat dari jauh, apatah lagi untuk menerangi. Sedangkan ia wujud dan nyata.
Amanat buat insan-insan seni, jari-jari yang dihadiahkan mandat kesusasteraan, adalah untuk memberi suara kepada bisik-bisik hati umat. Bisik-bisik yang seringkali ada sahaja yang sengaja menulikan telinga daripada mendengarnya, kerana mereka tidak bernama, seperti keluh Usman Awang.
Agar setiap yang berduka, dukanya didengari dan dimengerti. Ingatkah pedihnya Antara Dua Darjat, Penarik Becha, Ibu Mertuaku, garapan P Ramlee? Agar kemiskinan yang terperosok sembunyi, deritanya dicanangkan agar ada yang simpati. Teringat sajak Ibuku, nukilan Usman Awang. Agar umat yang tidur diulit mimpi sedangkan kepincangan sosial membarah, segera disergah sebelum kebejatan kian berleluasa. Ah, di sini lantang sekali suara Faisal Tehrani dan Abdullah Hussain. Agar berontak yang membara, khabarnya disebarkan ke serata jagat raya, membangkitkan semangat juang yang lain, menyedarkan setiap yang berkongsi rasa bahawa sesungguhnya ramai yang berfikrah seia, lantas mengajak kepada penyatuan dan tindakan. Ini legasi Jose Rizal, Pramoedya Ananta Toer, Taufiq Ismail, Pak Sako, malah Tun Dr Mahathir sendiri.
Seni dan sastera yang tulen adalah suara dari umat untuk umat. Rintihan, sorakan, dan teguran. Memaksa seniman dan sasterawan untuk menceritakan sesuatu yang bukan suara umatnya, mengisahkan sesuatu yang mengkhianati umatnya, samalah seperti mengugut doktor supaya membunuh pesakitnya. Mengekang seniman dan sasterawan daripada berbicara, daripada berkarya, samalah seperti menahan doktor daripada merawat pesakitnya, menyuruh doktor membiarkan pesakitnya terkedang mati.
Minat dan bakat dalam seni, dalam sastera, bukan sekadar anugerah untuk ditayang-tayangkan dalam rupa cerpen-cerpen picisan dan sajak-sajak murahan, atau nukilan-nukilan 'syok sendiri' yang sarat cinta berahi atau mesej konon-moral yang tidak berapa menjadi. Bukan sekadar bonus yang boleh dipergunakan untuk mencari populariti dengan menggarap beberapa karya yang memenuhi citarasa semasa lalu mengakui bahawa dirinya pejuang seni, pejuang sastera. Jangan kotorkan medan ini dengan kedangkalan kamu semua!
Jangan sia-siakan kurniaan Allah yang terlalu berharga itu pada tempat yang tidak sepatutnya. Fikirkanlah bagaimana ia dapat digunakan untuk membawa seruan dakwah dan islah. Bagaimana ia dapat dijadikan modal untuk jihad pada jalan Allah. Dan bila namanya jihad, lakukanlah bersungguh-sungguh.
Senang hati rasanya melihat penulisan-penulisan yang bukan sahaja bermesej tetapi indah dan bersastera. Jauh lebih menarik, lebih terpandang, lebih besar impaknya saya kira daripada penulisan yang sarat mesej tetapi tandus nilai estetikanya, sekadar plot sama yang diulang-ulang, seolah-olah tidak ada intensif ke arah kreativiti. Ayuh, kita banjirkan medan seni dakwah, sastera dakwah, dengan karya-karya yang unik dan berkualiti, karya-karya yang didasari ilmu dan kajian, bukan karya yang 'sekadar ada' dan 'cukup makan', dilatari gubahan idea yang klise, malah lebih mengecewakan ditaburi fakta-fakta yang salah.
Sekadar 'nota kaki', saya tidak faham kenapa apabila universal injustice dihentam dalam mana-mana karya seni dan sastera, ada pula orang yang terhegeh-hegeh menawarkan diri untuk menjadi mangsa, mahu tersinggung-singgung, mahu marah-marahan, seolah-olah dirinya yang menjadi sasaran. Mahu sangatkah mengaku berbuat jahat? Seperti bahasa pasarnya, "eh pleaaase la, kita tak cakap kita kutuk awak pun, yang awak ngade2 nak terasa tu pehal? perasan!" Atau sebenarnya memang paranoid diburu dosa, sehingga apa sahaja cuitan terasa seperti peluru berpandu yang dihalakan ke arahnya? Seperti kisah Badan dan Nyawa, penyamun berdua dalam Nujum Pak Belalang yang meraung-raung meminta ampun kerana menyangka keluhan Pak Belalang di dalam gua itu adalah ditujukan buat mereka.
Seni dan sastera itu indah, sungguh indah. Seindah kelopak-kelopak bunga putih dan merah jambu yang berkembang memenuhi pokok-pokok di sepanjang pinggir jalan, dan gugur bertaburan seperti permaidani halus atau percikan permata apabila ditiup angin atau disiram hujan. Hanya seni dan sastera yang dapat menggambarkan air mata sebagai hujan, atau darah sebagai pelangi, lantas mengajak umat tertawa sambil menangisi kehidupan yang seperti mati.
salam sayang, wangi kembang cinta musim semi.
meow~
Alhamdulillah, mental dan fizikal saya masih sihat dan diizinkan sekali lagi untuk kembali melarik sesuatu di laman ini setelah begitu lama (saya kira) menyepi. Bukan jemu, jauh sekali hangat-hangat tahi ayam, tetapi kesibukan yang terlalu memaksa saya sekadar merenung laman yang tidak berganti baru wajahnya. Ya, bukan anda sahaja yang bosan melihat entri lama tidak bertukar! :-)
Banyak yang ingin saya ceritakan, yang ingin saya kongsikan bersama. Nanti-nantilah, kalau panjang usia, kalau diizinkan Allah, tertulislah semuanya. Yang menentukan sama ada sesuatu itu terucap atau tidak, tersebar atau tidak, adalah Allah, bukannya manusia dan segala undang-undang sekatan bersuara mereka, bukan?
Tutur pujangga, siapa makan cili, dialah yang terasa pedas. Kalau tiada angin (atau beruk di atas pokok, kata seorang kawan), masakan pokok akan bergoyang? Kalau sendiri tidak menyalakan api, kenapa harus melenting apabila asap dirungut-rungutkan?
Membaca tulisan-tulisan Usman Awang, Pak Sako, Abdullah Hussain, Faisal Tehrani (sekadar menyebut beberapa nama), jelas terlihat manusia-manusia sastera, anak seni yang halus jiwanya melontarkan kritikan melalui susunan karya yang santun dan indah, dari jiwa sampai ke jiwa, seperti nadi kepada kesedaran umat yang bernyawa.
Ya, 'orang sastera' betapapun stereotaip yang diwara-warakan tentang mereka, hakikatnya mereka dianugerahi Allah dengan pemerhatian yang sensitif dan daya ekspresi yang tinggi. Hikmah kehadiran mereka yang sebenarnya hanya Allah yang Maha Mengetahui, tetapi pada nilaian zahir manusia seperti saya yang pincang serba-serbi ini, mereka hadir supaya umat punya suara.
Keriangan dan kesedihan itu perasaan setiap manusia. Melihat kekejaman dan kezaliman, siapa sahaja (yang normal dan belum dilegapkan fitrahnya) akan berasa tidak puas hati, ingin berontak. Melihat kemiskinan dan ketidakadilan, insan berhati insan akan berasa duka dan simpati. Apabilabermain dengan cinta dan dikunjungi oleh bahagia , manusia akan bersyukur dan gembira.
Tapi tidak semua mereka yang punya perasaan itu punya suara, punya kekuatan, punya iltizam untuk meluahkan. Malah mungkin juga tidak punya kemahiran. Sudahnya, adakah perasaan yang mendongkol dalam dada umat itu tinggal terbuku tidak disuarakan? Seperti bara-bara kecil yang bekerdip, cahayanya tidak cukup kuat untuk dilihat dari jauh, apatah lagi untuk menerangi. Sedangkan ia wujud dan nyata.
Amanat buat insan-insan seni, jari-jari yang dihadiahkan mandat kesusasteraan, adalah untuk memberi suara kepada bisik-bisik hati umat. Bisik-bisik yang seringkali ada sahaja yang sengaja menulikan telinga daripada mendengarnya, kerana mereka tidak bernama, seperti keluh Usman Awang.
Agar setiap yang berduka, dukanya didengari dan dimengerti. Ingatkah pedihnya Antara Dua Darjat, Penarik Becha, Ibu Mertuaku, garapan P Ramlee? Agar kemiskinan yang terperosok sembunyi, deritanya dicanangkan agar ada yang simpati. Teringat sajak Ibuku, nukilan Usman Awang. Agar umat yang tidur diulit mimpi sedangkan kepincangan sosial membarah, segera disergah sebelum kebejatan kian berleluasa. Ah, di sini lantang sekali suara Faisal Tehrani dan Abdullah Hussain. Agar berontak yang membara, khabarnya disebarkan ke serata jagat raya, membangkitkan semangat juang yang lain, menyedarkan setiap yang berkongsi rasa bahawa sesungguhnya ramai yang berfikrah seia, lantas mengajak kepada penyatuan dan tindakan. Ini legasi Jose Rizal, Pramoedya Ananta Toer, Taufiq Ismail, Pak Sako, malah Tun Dr Mahathir sendiri.
Seni dan sastera yang tulen adalah suara dari umat untuk umat. Rintihan, sorakan, dan teguran. Memaksa seniman dan sasterawan untuk menceritakan sesuatu yang bukan suara umatnya, mengisahkan sesuatu yang mengkhianati umatnya, samalah seperti mengugut doktor supaya membunuh pesakitnya. Mengekang seniman dan sasterawan daripada berbicara, daripada berkarya, samalah seperti menahan doktor daripada merawat pesakitnya, menyuruh doktor membiarkan pesakitnya terkedang mati.
Minat dan bakat dalam seni, dalam sastera, bukan sekadar anugerah untuk ditayang-tayangkan dalam rupa cerpen-cerpen picisan dan sajak-sajak murahan, atau nukilan-nukilan 'syok sendiri' yang sarat cinta berahi atau mesej konon-moral yang tidak berapa menjadi. Bukan sekadar bonus yang boleh dipergunakan untuk mencari populariti dengan menggarap beberapa karya yang memenuhi citarasa semasa lalu mengakui bahawa dirinya pejuang seni, pejuang sastera. Jangan kotorkan medan ini dengan kedangkalan kamu semua!
Jangan sia-siakan kurniaan Allah yang terlalu berharga itu pada tempat yang tidak sepatutnya. Fikirkanlah bagaimana ia dapat digunakan untuk membawa seruan dakwah dan islah. Bagaimana ia dapat dijadikan modal untuk jihad pada jalan Allah. Dan bila namanya jihad, lakukanlah bersungguh-sungguh.
Senang hati rasanya melihat penulisan-penulisan yang bukan sahaja bermesej tetapi indah dan bersastera. Jauh lebih menarik, lebih terpandang, lebih besar impaknya saya kira daripada penulisan yang sarat mesej tetapi tandus nilai estetikanya, sekadar plot sama yang diulang-ulang, seolah-olah tidak ada intensif ke arah kreativiti. Ayuh, kita banjirkan medan seni dakwah, sastera dakwah, dengan karya-karya yang unik dan berkualiti, karya-karya yang didasari ilmu dan kajian, bukan karya yang 'sekadar ada' dan 'cukup makan', dilatari gubahan idea yang klise, malah lebih mengecewakan ditaburi fakta-fakta yang salah.
Sekadar 'nota kaki', saya tidak faham kenapa apabila universal injustice dihentam dalam mana-mana karya seni dan sastera, ada pula orang yang terhegeh-hegeh menawarkan diri untuk menjadi mangsa, mahu tersinggung-singgung, mahu marah-marahan, seolah-olah dirinya yang menjadi sasaran. Mahu sangatkah mengaku berbuat jahat? Seperti bahasa pasarnya, "eh pleaaase la, kita tak cakap kita kutuk awak pun, yang awak ngade2 nak terasa tu pehal? perasan!" Atau sebenarnya memang paranoid diburu dosa, sehingga apa sahaja cuitan terasa seperti peluru berpandu yang dihalakan ke arahnya? Seperti kisah Badan dan Nyawa, penyamun berdua dalam Nujum Pak Belalang yang meraung-raung meminta ampun kerana menyangka keluhan Pak Belalang di dalam gua itu adalah ditujukan buat mereka.
Seni dan sastera itu indah, sungguh indah. Seindah kelopak-kelopak bunga putih dan merah jambu yang berkembang memenuhi pokok-pokok di sepanjang pinggir jalan, dan gugur bertaburan seperti permaidani halus atau percikan permata apabila ditiup angin atau disiram hujan. Hanya seni dan sastera yang dapat menggambarkan air mata sebagai hujan, atau darah sebagai pelangi, lantas mengajak umat tertawa sambil menangisi kehidupan yang seperti mati.
salam sayang, wangi kembang cinta musim semi.
meow~
Monday, March 26, 2007
menemukan katarsis?
Satu, satu dan satu
persis ketul batu.
yang meluru merempuh dari jurang dan gunung
mengoyak tirai damai, menghalau
kupu-kupu tenteram yang
baru cuba bermain-main di taman
hati.
Ketika lembar-lembar surat yang ditatap
bercerai-cerai menjadi himpunan
ayat yang pecah
kepada h ur u f – h u r uf
ter pi sah satu, satu, dan satu
tak p u ny a pengertian.
Ketika alam maujud
bukan lagi realiti yang tegar
hanya maya
objek tanpa jasad, yang ada hanya diri
…yang keliru mencari siapa diri?
Kabus mengapung-apung dan pandangan menjadi
kabur
Satu, satu dan satu
seruan bertalu.
Ini futur menuntut katarsis.
Sebelum satu, satu dan satu
hayat berlalu.
persis ketul batu.
yang meluru merempuh dari jurang dan gunung
mengoyak tirai damai, menghalau
kupu-kupu tenteram yang
baru cuba bermain-main di taman
hati.
Ketika lembar-lembar surat yang ditatap
bercerai-cerai menjadi himpunan
ayat yang pecah
kepada h ur u f – h u r uf
ter pi sah satu, satu, dan satu
tak p u ny a pengertian.
Ketika alam maujud
bukan lagi realiti yang tegar
hanya maya
objek tanpa jasad, yang ada hanya diri
…yang keliru mencari siapa diri?
Kabus mengapung-apung dan pandangan menjadi
kabur
Satu, satu dan satu
seruan bertalu.
Ini futur menuntut katarsis.
Sebelum satu, satu dan satu
hayat berlalu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
