Sunday, May 31, 2009

Keris dan Bunga Tanjung

Salam.

Pagi-pagi tadi, saya terpisat-pisat bangun sekitar jam 7.30, selepas tidur kurang empat jam. Sesi pembentangan sepanjang hari untuk membantu pelajar-pelajar Tahun Tiga menduduki ujian praktikal minggu hadapan akan bermula jam 9 pagi. Saya mesti cepat-cepat bangkit dan bersiap. Sempat menjeling skrin komputer yang sedia terpasang, saya nampak empat IM Yahoo!Messenger. Dua daripadanya mengucapkan tahniah kerana cerpen tersiar dalam majalah, Dewan Siswa Jun 2009.

Alhamdulillah.

Saya sudah setahun tidak menghantar karya ke media. Masih menulis, walaupun tidak sekerap dulu, tapi tidak lagi menghantar karya. Entah kenapa saya pun kurang pasti. Nak kata takut kena reject, seingat saya, tidak pernah lagi karya yang saya hantar kena reject. Dalam aspek-aspek hidup yang lain saja saya agak dysfunctional - tapi alhamdulillah tidak dalam sastera.

Cerpen yang tersiar itu adalah tulisan saya pada hujung tahun 2007 kalau tidak silap, dan dihantar kepada Kak Eton editor Dewan Siswa semasa cuti musim panas 2008 - Jun atau Julai rasanya. Begitu lama dihantar, kata Kak Eton apabila ditanya, sudah diterima, cuma menunggu giliran untuk diterbitkan. Begitu lama sekali menunggu giliran, akhirnya sampai selepas setahun! Tersenyum-senyum seorang diri saya pagi tadi.

Moga-moga saya akan rajin menghantar penulisan ke media semula. Kawan-kawan lain yang berbakat dan berminat, jangan tangguh-tangguh, gelanggang sastera memerlukan muka-muka baru yang segar dan bertenaga =)

Saya sertakan secebis dua fragmen daripada cerpen Keris dan Bunga Tanjung yang asal dalam simpanan saya - tidak pastilah pula kalau berlaku perubahan di sana sini setelah diedit untuk penerbitan. Ah, mesti paksa adik saya belikan majalah ini sebagai koleksi!

Gelanggang berlantaikan tanah liat berpasir yang mampat padat dilatam, dikelilingi pacak-pacak andang yang bernyala memuntahkan jelaga yang cepat ditelan malam, hidup dengan teriak pekik dan guling banting anak-anak gayong. Susuk-susuk berpakaian serba hitam berlilit destar di kepala, yang perempuan mengikat sarung batik di pinggang santak ke bawah lutut, mengatur langkah perwira tapak demi tapak, susun turutan yang mulanya terkial-kial dihafaz kini sebati dengan gerak.


...

Awal remaja, aku dan Hussein bertemu di gelanggang gayong. Di bawah mata helang dan tegas jerkah bapanya Pak Mahmud, jurus silat kami pertajam, jeling-jeling memercupkan rindu dendam. Sedekad berlalu dan kami menautkan janji untuk sehidup semati, janji untuk memartabatkan gayong sebagai jati diri bangsa yang tebal dengan seni. Ada bezakah antara cinta kepada Hussein dan cinta kepada gayong?


...


“Kisah ibu dengan gemulah ayah sama sekali tidak boleh dikaitkan dengan Tajuddin. Dia benar-benar belot. Mengkhianati gelanggang, mengkhianati gayong. Mengkhianati Anum!”

Sekarang, aku bukan lagi gurulatih tegas di tengah gelanggang. Faridah Hanum, puteri sulungku yang selalu sekeras berlian, menghamburkan tangis di bahu ibunya.



salam,
meow~

Sunday, May 24, 2009

Choice and Responsibilities - fragment of idea

As the car blasted through the night, the road stretching long and empty, I could feel the heart pounding beneath my ribcage. Cold sweat trickling down my forehead, and beneath my headscarf my neck was drenched wet.

We had barely escaped.

"Mama, why are we running away like this?"
The small voice of Alexei, the little kid strapped with child-safety belts on my left broke the monotony of car engine and night winds.

"Because the bad people have found where we were hiding, and we must never let them catch us."

"Why are there always bad people chasing us?"

I gulped, racking my brain for an answer. Usually it is considerably fast in giving responses - I think the overload of adrenaline has slowed it down when it comes to wit and words. Before I could say something, Alexei added another question.

"Why is papa not around with us? Protecting us? I think papas are supposed to be protective."

At five years old, Alexei is nowhere near his peers. Something I should be proud of, but at times, it is heartbreakingly difficult to deal with.

"Papa is also on the run. He's doing something very, very important."

"More important than us? Why can't he do it with us? We're also running away, it would be the same thing, only we'd be together. You're also doing something important, isn't it mama? How many important things are there in the world? Can't you choose which one to do?"

"Yes, mama is also doing something important, which is why we need to keep ourselves safe from the bad people until everything is settled." I know I am deliberately answering only part of the question. My eyes are focused on the long stretch of wide road ahead, empty and dark, littered by square little lights to mark the traffic lines, with lamp posts perched every 100 yards or so. I looked on the rearview mirror every now and then, never forgetting to thank God every time I'm convinced we are not being followed. A glance to the left confirmed my suspicion that Alexei with his little dark eyes is looking contemplatively at the same road, head swirling with questions and contradictions.

"Why must we do important things? I'm sure if we don't do important things, we can live happily together at home - mama, papa, me, our cat - and we don't need to keep running away. " He paused. "Or we can do important things that does not make bad people want to catch us. I am sure there are many."

"Yes there are... but this is what mama and papa chose to do. Hence we had to be devoted to this choice we had made, and pursue it till we..." I carefully selected the words, "...have done our best, regardless whether we are successful or not."

"But mama, it is your choice and papa's. I did not make the choice. Why must I be dragged in as well?"

Of all questions Alexei had and could have had asked, I didn't expect this one.

"You're still a small child, darling. Mama and papa are still responsible for taking care of you, and we cannot leave you on your own to follow your own choices. We had to involve you in decisions we take, and make sure that you're as safe and happy as possible. When you grow up old enough to decide, you can make choices on your own. Would you be happy with that?"

Does responsibility of care mean that the carers must make the charge follow their decision-making, or follow the decisions of their charge, or make a joint-decision? Ah, I am being too technical about this. Alexei is just a child - however smart he is, he is not yet fit to decide matters himself, let alone to execute his decision independently. That is the excuse for me and his papa to "drag Alexei in our decision".

Alexei was quiet for a while. He's thinking. I thought of his papa with a twinge of melancholic reminiscence. I know why we chose to do this, dear, but sometimes, I need reminders... from you, while you're physically by my side.

"I don't know. I'm happier if you decide for me - if that means I can always be with you. I don't mind going places and running from bad guys, if I can be with mama. I just wish papa can be with us too. I hate it when you leave me with Aunties and Uncles, sometimes I don't even know who they are. If I get to make my own choices, I want to choose to follow mama. And papa."

People will squander their rights, their freedom to choose independently, because of love. Little Alexei knows that. The dynamics involved in the making of choices is not simply reduced to a discourse between dependence or autonomy.

"Mama, I want to pee."

The road stretches long and far, to our left and right are forests and hills. No building nowhere. I referred to the SatNav, and noted with relief that there should be an R&R in 10 minutes' time.

"Can you wait ten minutes?"

"I'll try."

"If you love mama, do your best not to wet the sofa, pleaseee."

Alexei gave an evil grin, and we both laughed.

Friday, May 22, 2009

Kontemplasi I

Salam.

Sekarang musim bunga. Maghrib menganjak jauh-jauh, hujung senja mampir merapat dengan pangkal hari. Sementara pangkal hari pula seperti mengerti, hari demi hari, mengengsut mendekat, mendekat, Subuh kian hari muncul kian cepat.

Matahari muda keluar pagi-pagi, sudah jadi remaja ketika kaki laju ke hospital atau ke mana-mana saja untuk memulakan hari. Cerah dan girang, hangatnya lembut dan kuningnya cemerlang.

Baik ketika melangkah di jalan-jalan raya, atau hanya duduk-duduk di meja membiarkan bayu bertebaran masuk dari jendela yang separuh terbuka, aku tidak pernah tidak terpesona. Pokok-pokok yang dulunya hanya ranting berceracakan, semuanya meriah mengibarkan rimbun-rimbun daun hijau.

Kerap kali juga, musim bunga dirundung mendung sepanjang hari. Atau hujan yang merembes, tidak mahu berhenti, dari sebelum fajar terbit hingga merah maghrib mengapung di langit. Aku tidak kisah. Hujan juga indah.

Lagu hujan yang gugur deras-perlahan di atas kaca tingkap yang mencondong, irama tanpa melodi, damai meresap-resap ke hati. Desir sejuta tetali hujan yang dipetik seribu jejari angin di luar sana, dendang rindu atau ria yang menerawang ke seluruh maya? Melangkah damai merempuh tirai hujan, sedang titis-titis air itu memercik ke wajah, jatuh berlumba-lumba sampai kerudung, kot luar dan sepatu kuyup basah, makin lebat, makin indah!

Musim bunga sebenarnya sudah hampir ke hujung. Kuntum gebu yang penuh bersesakan di celah dahan dulu, yang begitu meriah menaburkan kelopak salji putih dan merah jambu, sudah hilang entah ke mana. Tentu sudah gugur dan layu kerana sudah habis waktu.

Kuntum-kuntum musim bunga sudah layu.

Ketika-ketika ini, aku teringat musim dingin. Musim beku. Musim yang aku sebutkan sebagai musim paling romantis. Aku pernah menghuraikan begitu untuk seseorang yang mempersoalkan.

"...Romantikanya dalam nuansa redup putih, hitam, dan kelabu, pudar dan kaku namun penuh emosi.

Angin sejuk yang sama sekali tidak ramah, keras dan pahit, namun tetap berhembus dan membelai seluruh anggota, setiap langkah.

Pohon-pohon sepi tidak berdaun yang menghabiskan waktu-waktu dalam tafakur, diriannya bercerita tanpa kata, tentang kemeriahan musim luruh yang telah berlalu, dan impian penuh harap menanti tibanya kegirangan musim bunga.

Deruan salji yang gugur, jarang-jarang tiba, kehadirannya disambut dan diraikan sebelum cair di tapak tangan.


Musim dingin adalah musim untuk cinta yang terpendam, renungan tentang masa lalu dan masa depan, serta penghargaan untuk setiap keindahan yang hanya sekejap datang."

Penilaian di kampus baru bermula, tetapi aku menemui malam-malamku tidak ditemani buku-buku. Aku menulis, berfikir, merayau-rayau tanpa hala tuju, akhirnya pagi tiba dan aku mencari sejemput tidur sebelum hari bermula. Tidak, fikiranku tidak kacau. Laut lepas manapun yang hampir lemas kurenang, terima kasih Tuhan kerana membekalkan dengan iman dan al-Quran sebagai pelampung dan pelabuhan.

Cuma mungkin bawah sedar merindu-rindu musim dingin, ketika semuanya beku, kaku, dan diam, semuanya damai dan terpendam. Semuanya ketika itu, tenang.

Cuma mungkin bawah sedar terkenang musim bunga, ketika kuntum-kuntum meriah itu dulu buru-buru mau keluar berjumpa suria, bergurau senda dengan angin dan matahari, sementara burung entah dari mana membisikkan harapan dan janji. Yang entah dari mana datangnya. Apabila yang tinggal adalah kelopak yang sudah layu menjadi tanah, maka entah kenapa, langkah menjadi lemah.

Menyesalkah?

Aku tidak pernah mahu menggunakan istilah menyesal dalam hidup.

Cuma mungkin bawah sedar mengeluh, lebih baik musim dingin terus kekal di sini, tidak perlu diganti oleh musim bunga yang mengusik-usik, riang dan bebas, datang hanya untuk pergi. Sama seperti emping salji - tetapi salji cair di tapak tangan yang akan kering selepas sesaat. Tangan itu boleh digenggam, dan kaki terus melangkah. Sedangkan aku melihat diriku, ada waktu-waktunya terhenti bisu di bawah pohon yang sudah tidak berbunga, terlalu angkuh walaupun untuk mengakui bahawa aku kepingin lagi berjalan di bawah deraian kelopak putih dan merah jambu.

Mungkin aku belum benar-benar faham pesanan angin utara yang dititipkan tanpa jemu dulu.

Musim dingin adalah musim untuk cinta yang terpendam, renungan tentang masa lalu dan masa depan, serta penghargaan untuk setiap keindahan yang hanya sekejap datang.

Barangkali pesanan itu cukup menjadi bekal untuk mendepani apa-apa musim saja yang mungkin datang.

Esok belum tentu cuaca apa yang menanti, tapi jika Allah mengizinkan aku hidup lagi, indahnya itu aku pasti. Anugerah yang dikirimkanNya sentiasa cantik. Mungkin esok, kalau hujan tidak melampau lebat, aku mahu ke taman di sebelah kediaman.

Sudah lama tidak duduk-duduk di bangku melihat orang lalu-lalang dan bayang-bayang pokok yang berjatuhan ditolak cahaya matahari petang. Sudah lama juga tidak berjalan-jalan menapaki denai, kiri kanan diapit pohon gagah yang tinggi berdaun rimbun, redup dan harum. My Lothlorien. Where I used to read The Lord of The Rings, reading of Frodo, Sam, Merry and Pippin, of Arwen and Aragorn, of things that never was and never will be.

I don't actually have anything to lose, in this respect, now. Perhaps, I had never gained anything that I can lose. So let's dance, sing, shout to the whole world and be happy.

Matahari, angin, dan hujan, ayuh kita bernyanyi. Salji dalam hati, biarkan ia beku sampai ---?

-2.40 a.m.
19 hari sebelum OSCE-
meow~

Wednesday, May 06, 2009

Requiem untuk sebuah Tanah Air

Seribu pasang tangan
mungkin sejuta
(aku sering terpaksa membaca riwayat
dari perawi yang tidak pernah tepat)
melambaikan bendera hitam
bendera hitam dari jalan-jalan
dari rumah-rumah
dari hati dan jiwa yang sudah lelah
satu protes kepada sebuah sejarah
sejarah tanah air yang dijarah pemerintah.

Hitam pekat tinta dari lumpur tanah
bau hamis seperti darah
masinnya seperti peluh dan air mata
bergayung-gayung tumpah
desir bendera ditiup angin,
bunyinya mirip esak-esak tangis,
sesekali terdengar raungan menghiris
atau mungkinkah itu sayup-sayup herdikan polis?

Kepala tanah air apakah itu
yang berebut negeri dengan rakyatnya
rakyat tanah air manakah itu
yang merelakan negeri direntap dari bawah kakinya
kepala tanah air zaman bilakah itu
yang mencuri negeri dari rakyatnya
dibahagi-bahagikan sesama mereka
sambil menghantar perawi-perawi dusta
rakyat tanah air bagaimanakah itu
yang menelan bohong-bohong dengan wajah suka
sementara bendera-bendera hitam terus berkibar
bertingkah dengan angin memainkan lagu perjuangan.

Kalau tanah air itu masih punya nyawa
maka akan diperjuangkanlah.

Kalau tanah air itu sudah mati asa
(seperti jasad yang dibunuh oleh kepala-kepalanya
rela menjadi hantu penanggal kerana tamak kuasa)
maka biarkan ia dikuburkanlah
bendera-bendera hitam sebagai kafan
ramai-ramai rakyat menyanyikan dendang ratapan
nyanyian selamat tinggal penuh harmoni
untuk keadilan dalam sebuah tanah air yang sudah mati.


-th 17f, 6.38 a.m.-

Friday, May 01, 2009

Kalau Luka, Letakkan Madu

Salam.

Tiga (atau empat?) hari yang lepas, saya cuai sewaktu mengasakkan sudu-sudu yang dibasuh ke dalam raga di tepi mangkuk sinki, langsung jari terturis mata pisau yang menanti. Mula-mula terasa irisan tajam, saya lihat ada luka yang belum berdarah. Lantas saya cuci - jari dan pisau yang menuris. Dalam hati mengeluh kecil - esok mahu berhabis-habis waktu di wad, paling tidak suka jika ada open wound - walaupun ditutupi plaster! (Saya sangat OCD tentang kebersihan dan infection control.)

Ambil gelas, susu dalam peti sejuk, ambil botol madu. Badan rasa kurang sedap sebenarnya. Mungkin susu yang diaduk dengan madu dapat menjadi asbab sedikit kelegaan. Tiba-tiba mendapat ilham - apa kata luka di jari ini, saya curahkan sedikit madu? Pernah juga terbaca, madu dan jeli petroleum adalah antara bahan yang bagus untuk menutup luka supaya terlindung daripada jangkitan dan mempercepat penyembuhan.

Luka yang mulanya hanya segaris kulit yang terlokoh, apabila dicurah setompok madu, berubah pedih, ketika madu mula meresapi tisu yang cedera. Darah tiba-tiba bergenang dan melimpah dalam satu garis halus - cairan merah dengan kepekatan osmosis yang berbeza, merintis galuran sendiri dalam pekat madu yang menakung, lalu larut dan meleleh perlahan bersama lekit titisan madu meniti jari-jari jatuh ke tapak tangan. Saya biarkan. Pedih yang sekelumit lama-lama akan hilang. Berhati-hati supaya tangan yang bersememeh madu tidak menyentuh pintu atau dinding, saya kembali ke bilik dan menggunakan enjin Google (seperti selalu) untuk mengesahkan bacaan saya tentang faedah madu untuk menangani luka-luka, baik kecil mahupun besar. Walaupun banyak dakwaan yang menyebut bahawa langkah terbaik adalah hidrogen peroksida, iodin, plaster, apa-apa sajalah lagi, beberapa laman yang lain berjaya meyakinkan saya bahawa berbaloi untuk mencuba. It's just a small cut anyway.

Setelah tangan itu kering, saya cuci bersih-bersih, dan ke dapur sekali lagi. Saya curahkan setompok lagi madu ke atas jari yang luka, kemudian mengambil sekeping kapas muka dan membalut tempat tersebut. Supaya kemas dan rapi, saya lilit longgar balutan itu dengan pelekat. Tidak rasa pedih lagi, tetapi sejuk dan damai. Bangun pagi keesokannya, luka nampak kering dan bersih. Saya ingin meneruskan terapi alternatif ini tetapi apakan daya, untuk tujuan kebersihan dan keselamatan di hospital, saya terpaksa menutup luka dengan plaster konvensional.

***

Kalau luka, letakkan madu. Logik sebenarnya, selain daripada pesanan Nabi yang mewar-warkan penawar daripada manisan lebah ini. Kepekatan gula yang tinggi menyebabkan madu tidak kondusif untuk survival bakteria dan menyerap lembapan daripada luka. Menurut satu laman web yang saya temui juga, reaksi antara madu dengan aliran darah pada luka akan menghasilkan hidrogen peroksida yang bersifat antibakterial dengan kadar reaksi perlahan supaya tidak merosakkan tisu.

Apa-apalah. Luka saya sangat kecil sebenarnya, dan tempoh penggunaan madu juga terlalu ringkas untuk melayakkan sebarang kesimpulan peribadi tentang keberkesanan terapi alternatif ini. Saya sebenarnya sangat tertarik dengan konsep... kalau luka, letakkan madu.

***

Luka yang pedih, dalam, menyakitkan, berlaku kerana bermacam-macam sebab. Geseran ganas dengan aspal gelanggang sewaktu bersukan, mata pisau yang tergelincir di dapur, kelupasan kulit rengsa yang digaru-garu akibat cuaca dingin, atau boleh jadi cedera kerana melecur dan melecet. Bagaimana mahu dirawat? Cuci dan curahkan alkohol? Hidrogen peroksida? Iodin? Krim antibiotik? Kemudian dibalut, kemudian dibuka, dicuci, dan dicurahkan segala macam kimia lagi? Atau lebih drastik, seperti dalam filem-filem aksi, luka dicucuh api saja seperti Rambo. Untuk membunuh bakteria dan mengeringkan darah walaupun masalah melecur dan infeksi seterusnya pula akan menjadi hal.

Saya tidaklah menentang perubatan moden. Nama-nama dadah dan teknik pengurusan cedera itu sebahagian bidang pengajian saya. Namun ada kalanya, mungkin lebih baik, santun dan manis, kalau luka itu kita cuci, dan letakkan saja madu yang pekat dan manis untuk merawat dengan lemah lembut. Walaupun banyak kontroversi tentang terapi alternatif - segala dakwaan bahawa tiada bukti saintifik dan sebagainya - saya masih cenderung untuk yakin bahawa rawatan bersumberkan sesuatu yang semulajadi kemungkinan besar lebih baik daripada sesuatu yang dicipta di dalam makmal atau di kilang-kilang.

***

Seringkali - saya tidak tahu tentang orang lain, tetapi saya sendiri - seringkali, saya suka bertindak agresif dengan luka-luka sendiri. Bukan, bukan luka pada jari, tapi pada jiwa. Luka yang tidak nampak di kaki tetapi berladung dalam hati.

Mengakui bahawa telah gagal itu adalah kekalahan. Mengakui bahawa saya sedih, kecewa, dan mahu menangis adalah satu ketewasan. Mengakui bahawa saya sudah penat, tidak mampu, saya mahu berhenti, berehat, menolak taklifan, adalah kehinaan. Meminta simpati itu menjatuhkan maruah. Luka-luka yang ada, walaupun tidak semua, saya basuh dengan alkohol, konon ia akan mencuci segala bakteria dan membantutkan semua jangkitan.

Semakin penat, semakin luka, semakin kecewa, semakin tertekan dengan jangkaan manusia sekeliling dan interaksi sosial yang menyerabutkan, saya semakin galak bekerja, ligat ke sana-sini, mengambil tanggungan itu dan ini. Semakin keyakinan diri terjejas - ketika semua orang di sekeliling terasa lebih baik, lebih menarik, lebih beragama, lebih berilmu, lebih tenang, lebih segala-galanya daripada saya - semakin saya menjadi agresif. Membenteng diri daripada manusia sekeliling, lari daripada ikatan dan kasih sayang yang lebih daripada sekadar basa-basi sosial, konon ia melindungi daripada kekecewaan dan kehilangan di kemudian hari, menyelamatkan daripada kelemahan diri terdedah untuk dipersendakan semua. Menghabiskan waktu, mendesak diri, sehingga makan dan tidur tidak menentu, konon hanya dengan memanfaatkan setiap titis waktu dan usia sehabis-habisnyalah, saya dapat menjadi manusia yang lebih baik, atau setidak-tidaknya setanding dengan manusia-manusia hebat dan sempurna di sekeliling. Bukan untuk pujian atau pengiktirafan, tetapi supaya saya sendiri tidak berasa begitu leceh, lekeh, dan hina.

Untuk siapa sebenarnya saya bermati-matian? Reaktif begitu setiap kali dirempuh dugaan, setiap kali keyakinan diri teruji, setiap kali hati tergugat dengan cabaran dan tekanan, setiap kali 'luka' - adakah saya sebenarnya merawat cedera atau merosakkan tisu-tisu nurani hingga yang rawan jadi makin ruwet? Adakah Allah memandang semua pekerjaan saya atau sebenarnya hanya syaitan dan nafsu yang bertepuk tangan melihat saya merawat luka dengan tangan yang gasar, memujuk jiwa dengan kerja keras yang sia-sia?

Bukankah lebih baik, kalau luka, biarlah selebar atau sedalam manapun, saya tumpahkan saja madu? Tumpahkan, curahkan saja, mula-mula ia mungkin pedih ketika jasad batini yang tidak biasa dengan kemanisan yang tuntas, yang padu serupa itu, tetapi setelah ia meresap dan sebati, Allah, damainya, tentu Engkau saja yang tahu. Mabuknya nanti, dunia dan isinya akan menjadi serupa debu.

Apalah sangat tentang isu self-esteem, expectation, social barrier, dan lain-lain yang hanya tempekan-tempekan superfisial atau turisan-turisan licik syaitan kepada luka yang tidak sembuh-sembuh. Yang keruh bercampur percikan riya', takabbur, 'ujub, dan sum'ah yang merosakkan ikhlas sampai remuk berkeping-keping sebelum hancur seumpama tanah liat kering. Amal yang dikumpul separuh mati, semuanya dicampak kembali ke muka, kerana jasad batini yang tidak pandai dirawat lukanya, terlalu banyak cacat cela untuk layak masuk syurga.

Hidup ini tidak melampau rumit sebenarnya. Yang ada hanya luka dan botol madu, dahi dan sejadah, hamba dan Tuhannya.

Allah, janganlah rengkung ini sudah gersang kering hingga tidak ada ghairah lagi pada manisnya madu dari takarMu.

-katarsis-

Saturday, April 18, 2009

Oops, I Did It Again!

Salam.

As I'm sitting here writing, a pot of 'ayam masak pedas - adibah's style' is boiling on the stove in the kitchen, and I'm still debating whether to slide into bed for a well-deserved (?) sleep or simply find bits and pieces of things that I can work on to make up for lost time. I've been practically pulling an all-nighter, but haven't been productive at all through that, so you can put the dilemma into context.

I don't know why is it that transportational or travel mishaps seem to favour me more than the average person that I knew. Perhaps it is my haphazard way of doing things, my frequency of travelling which makes me statistically more prone to accidents, maybe I am simply meant to be unique in this respect, and it could be that almost everyone else had similar share of misfortunes but me in my self-centredness thought that it was only me.

I slept through Kolej MARA Banting bus stop and woke up somewhere in Labohan Dagang while in college, slept through the Guchil stop and went straight to Kota Bharu during home-bound journeys to Kelantan (refer Pagi), chasing almost-missed buses, trains, and even FLIGHTS for God-knows-how-often (missed some of them anyway), and actually I barely managed to catch the flight that will take me to the UK for the first time in September 2006. For more than once, the bus I was in start emanating weird smoke stuff in the middle of the journey, rendering everyone victim to a quick get-out-in-the-midst-of-nowhere-and-find-a-new-transport ritual.
My luggage was left in Malaysia while I landed in Heathrow on August 2007.

I had spent chunks of night in airports and bus stations - usually alone - while clutching my bag for dear life (but falling dead asleep anyway, with no guarantee whatsoever to the integrity of the safety clutch). God knows how often I was saved by some kind souls who woke me up and telling me what time is it and how concerned they are that this lone 'young lady' might miss her transport.

And let's not start talking about me braving my own way in new, unknown (and even well-known) places and getting lost. Foolhardy? Adventurous? Naah, I think I'm just plain disorientated when it comes to mapping roads and ways, which is actually ironic considering how much I travel alone. It happened once more, just the day before yesterday, to be exact - trying to walk my way from Princess Street to Manchester Victoria, which I think any self-respecting Mancunian who had been around for circa 2 years and a half would have been able to do, but I finally had to give up and find the nearest bus stop. A shame, really.

Last night, I did it again. Or rather, it happened again to me. No, I wasn't lost. The last train lost me by departing without me. Hehe. For some reason, late yesterday afternoon, I rushed to a neighbouring city by train - only bothering to check the departure time from Manchester. When I finally got back to the train station in that particular city, at about eleven p.m., to my dismay I discovered that there were only four outgoing trains scheduled to depart on the electronic display board - for the rest of the night. None of them were going to Manchester. Not even passing Manchester. And I am utterly alone, armed only with a handbag containing a cardiovascular textbook, a poetry book, a compass, my wallet, phone and keys.

Now, that city is not like our vibrant Manchester which would be alive no matter at what hour. At eleven p.m., the only people around are several party-goers, drunkards, last-minute travelers, and shabby elderly men shambling around the train station. Understandably I'd feel less safe. Nevertheless, I feel it is too much to ask my friends to leave their houses after sending me off to the station, to pick me up - again. I decided on a second option - the nearby coach station. Unfortunately, no coach home that night, earliest coach at four a.m. with a really really long transit at another city and I'll reach Manchester Central by about eight a.m., probably three-quarters dead from exhaustion. Some checks revealed that there will be a train home at 3.45 a.m. Approximately four hours from then. I seriously considered sleeping in the station, but was quite doubtful if they'd let me - since unlike Manchester Piccadilly, this station actually closes at midnight.

Feeling awkward, apprehensive at what will be awaiting me, yet excited at the prospect of a new 'adventure', and too proud to ask my friends to pick me up, I looked around the almost-deserted station for someone who might be able to answer my query. A Pakistani-looking middle-aged man in a First jacket told me - in a very concerned and fatherly way - that the station will be closed, but the lights will be on and maintenance staffs would be around, and I would be safe inside. I can wait in the waiting room underneath the stairs, and if there is any problem, I can always go to the office beyond Platform 5. I found his gestures very helpful and indicated a genuine concern of my well-being. (Looking like a cute, vulnerable, lost, lonely 'young lady' might help - though I don't know if that was how he perceived me!)

I haven't performed my Isha' prayers - expecting to offer it at home - and I need to make wudhu'. The staffs are cleaning the toilets, and they don't really let people in - two party-going women who looked more than tipsy had a difficult time trying to get in, but fortunately for me, they allowed me to use the disabled toilet - which was a real blessing since one of the cleaners was a man, and the disabled toilet would provide enough privacy for me to make my ablution.

The waiting room was relatively warm compared to the platforms outside. However, I was not alone. An elderly man - perhaps in his seventies - was there, and I'm 75% sure he's not quite right in the head. When I arrived in the city earlier in the evening, I saw him talking to no one I can see, in a cafeteria. He looked perfectly sane and respectable - suit and tie - with trim white hair. He started a conversation with me about how the city was in the olden times, his travels with his son, and how he is waiting for his wife arriving at half past one from London. There was a strong accent to his speech - I'm not sure which, but most probably from some European country. It was not alarming or scary - I did question his sanity, I'm not sure if there'll be a wife arriving for him in two hours, I'm not sure the phone he showed me and later used (while talking in a foreign language) was actually functioning - but I didn't feel threatened by his presence. Smiles which he flashed to me from time to time were quite endearing although I can sense some unusual tinge to it.

I spent almost two hours talking over the phone to my friend, and later, my younger sister Afiqah, who is currently on holiday from his matriculation campus. She told me how my second younger brother - 10-year-old Amiruzzaman - has grown up into a stout and charming miniature of my father, and was actually performing silat during weddings in our village! He's an awful sentimental though. Right into my footsteps. 13-year-old Aiman had lost weight and must have looked more handsome than ever - he's tall, fair, with a finely chiseled, impish large-eyed face, and quite sturdy in built once he lost his childhood pot-belly. I missed them all so much! The kindly staff who had spoken to me earlier actually dropped in the waiting room to check on me - he looked around until he saw me and asked how I was doing. That's very sweet =)

Half past one, a train actually arrived from London. The mystery old-waiting-for-his-wife-man looked at his watch excitedly, gave me one last happy smile and left the waiting room. I never saw him afterwards - I hope he really found his wife. The room was starting to feel colder. I thought all the heat I brought with me in the room is dissipating. Wearing only a light shirt and a knitted cardigan suitable for Manchester early-evening weather did not help at all. Not even a muffler or gloves were with me. I performed my prayers in a corner of the waiting room - kneeling on the newly-mopped floor still smelling of bleach, and prostrating my face on my cardiovascular textbook as a makeshift 'prayer mat'.

In a contorted, splayed way, I fell asleep on one of the chairs - to wake up about an hour later, feeling absolutely frozen. God, I had forgotten that this kind of cold existed! Shivering, shaking, hugging myself, doing whatever I can to keep warm, and I was morbidly hungry. Two pieces of pizza and a handful of chips eaten at eight p.m., however full of calories, cannot sustain me this long! I shuffled out of the waiting room - to be greeted by the full-blown cold outside - and made my way, shivering, all muscles desperately contracting to generate some heat, finding a vending machine. How I fumbled in my wallet for pennies, inserting them one by one, barely able to move from the sheer cold. I felt almost dead by the time I got back to the room - searched desperately for any source of heat, in vain. Eating the Kellogg's SoftBake - the packet teared open with shaky stiff fingers - helped to warm me up a bit. Inspired by several fellow travelers who had recently entered the waiting room, I lifted my feet from the floor, and stretched on my side, the cushioned chairs serving as a makeshift bed.

"The train to Manchester Piccadilly will be departing in ten minutes... so I think..." the slightly nervous young man with a foreign accent, standing over the curled-up me on the chairs, was sent as my saviour, waking me up just on time to catch the train I had desperately waited for. I scrambled up as gracefully as possible, thanked him profusely, looked around and saw that the room was now empty, and wondered with a semi-bleary mind barely functioning within a physique half-frozen by cold, how on earth I am going to find the platform? Luckily my saviour-man was also going to the same destination, and I braved the cold on the platform again to get to the train. The warm blast of air which greeted me upon entering the train was short-lived pleasure - I was still shivering throughout the journey, though not as bad as while waiting in the station.

I had bought a day ticket the day before - and since technically it was 18th April, not 17th April anymore at 3.45 in the morning, I need to buy a new ticket costing about GBP10. However, the conductor simply waived it off when he saw the unused ticket and I told him that I missed the train - thank you Allah for the kindness of fellow human beings!

Walking from Manchester Piccadilly at 4.35 in the cold, cold, cold morning to Piccadilly Garden was another challenge, and waiting for the 5 a.m. bus home after the 15-minute walk was the next challenge. Main challenging factor : COLD!! Though I must say nothing beats the cold in the train station just now ... it's a wonder I made it alive. I couldn't say how relieved I was when I finally entered my warm abode of Thorncliffe House, got into my beautiful, beautiful, beautiful bedroom and switched on the heater.

The thing about dealing with cold is that I can't even control it the way I deal with pain or stress. With pain and stress, relaxing the muscles, focusing the mind and controlling the breathing help a lot. With cold, you are practically shivering and shaking and contracting all over the place to keep warm - how on earth are you supposed to relax? Yeah, it's mind over matter, technically you can still focus and relax the mind despite the partially convulsing body - but I haven't mastered that degree of meditation yet. =D

Anyway, it was one whole new experience for me - learnt a whole lot of morals as well. Mainly,
1) don't ever underestimate cold - people do die from cold temperatures!
2) check timetables of outgoing and return journeys and remember the times
3) always keep faith in the goodness of human soul - there are a lot of kind, concerned people out there
4) always have faith that Allah will take care of you no matter where you are! (but not make it an excuse to be extra-careless)
5) wear the proper attire for the weather of your destination, not your point of origin i.e. home
6) when meeting old respectable men (and women) who looked strangely 'out of it', be kind and behave normally - they are people who deserve love and respect as well
7) any amount sacrifice would usually feel worth it if juxtaposed with love, friendship, trust and that common aim we all strive for ;-)
8) careful what you wish for - just hours before departing yesterday afternoon, I was complaining that there is not enough physical challenge during programs in the UK to push me to my limits, there were only mental, philosophical stuff, talks, discussions, seminars, whose effects kinda wear off sometimes - and hey presto, Allah gave me the physical challenge. ambik ko.

Maybe, just maybe, I'll go get some sleep. The 'ayam masak pedas - adibah's style' is done, tasted, eaten with some cold leftover rice, and declared a success.

I'm still contemplating whether or not to attend Malaysia Night's play tonight - I had never been to one since my first year.

Salam,
meow~

Thursday, April 16, 2009

Bukan Sekadar Sepanduk - I

Salam.

Hampir tepat sebulan yang lepas, saya telah diumumkan memenangi pilihanraya Student Union di universiti, dan merupakan calon yang sah terpilih untuk menduduki kerusi Medical and Human Science Faculty Officer pada tahun akademik akan datang. Barisan calon dari pakatan kami - Islamic Society and Action Palestine/Leftist/Socialist memenangi agak banyak kerusi, signifikan untuk memberi kami suara yang lantang dan gagah dalam barisan pimpinan dalam Union nanti. Alhamdulillah. Kejayaan milik bersama.

Rentetan ke arah terjunnya saya ke dalam kancah politik mahasiswa di kampus ini bermula beransur-ansur. Ah, terlalu banyak yang sudah berlaku dan tidak tertuliskan. Benarlah kata guru saya dulu, "Adibah, you underwent a lot of interesting experiences. You should keep a diary!" True indeed, I wish I had, and I wish I could!

Pilihanraya NUS

Kalau dicari satu titik yang benar-benar menjadi pencetus semerta kepada semua yang telah berlaku, maka mungkin saya akan meletakkannya ke Pilihanraya NUS. NUS adalah akronim untuk National Union of Students, organisasi yang mempertemukan wakil-wakil pelajar dari setiap universiti di United Kingdom yang menjadi anggotanya, mewakili sekitar 7 juta pelajar seluruh negara. Delegasi ke Persidangan Tahunan NUS dipilih secara undian merentas kampus. Para wakil inilah yang akan membahaskan dan memutuskan polisi-polisi serta tindakan NUS seputar kehidupan dan kebajikan pelajar, juga menyentuh isu-isu pentadbiran dalam negara dan permasalahan antarabangsa. Sidang juga akan melantik barisan pimpinan baru yang bakal menerajui NUS dalam penggal hadapan.

Apabila ada sistem pengundian untuk memutuskan isu-isu penting dan melantik figura-figura kepimpinan, maka lumrahnya para pengundi akan berkelompok dalam blok-blok tertentu mengikut kepentingan dan pendirian masing-masing. Wakil-wakil Muslim umumnya akan berkumpul di bawah naungan Federation of Student Islamic Societies (FOSIS). FOSIS akan memberi bimbingan dan nasihat kepada para delegasi ini untuk menghadapi persidangan, terutamanya kepada wakil-wakil yang belum berpengalaman, first time delegates. Keputusan-keputusan penting yang mempengaruhi kedudukan pelajar Islam di United Kingdom juga akan dibincangkan untuk memastikan pilihan yang bakal dibuat oleh setiap wakil berlandaskan pengetahuan serta pertimbangan paling wajar. Blok-blok lain yang ada termasuklah Union of Jewish Students (UJS), Student Respect, National Organization of Labour Students, Education Not For Sale, Green Party, dan lain-lain.

Cukup pengenalan tentang apa itu NUS. Di mana pula saya terlibat dalam organisasi ini? Sekitar bulan Oktober 2008 barangkali, FOSIS datang mengadakan bengkel tentang aktivisme pelajar di Manchester. Saya yang baru berjinak-jinak mau kenal tentang aktivisme pelajar ketika itu - setakat menghadiri satu dua demonstrasi, mengerapi General Meeting saban minggu, menghadiri dokumentari Open Media hari Isnin malam dan ceramah-debat-seminar sesekali, takat itulah saja penglibatan saya - diheret teman untuk mendatangi bengkel tersebut. Saya hadir antara rajin dan malas. H teman saya itu adalah pelajar Malaysia, rakan senegeri, tetapi menjawat jawatan Head Sister untuk University of Manchester Islamic Society. Gigih benar dia berusaha mengajak kawan-kawan rapat dan pelajar Malaysia lain melibatkan diri dengan ISoc serta aktivisme pelajar.

Pengisian menarik dan membuka mata tentang struktur dan sistem aktivisme pelajar di bawah FOSIS, walaupun saya kurang nampak apakah kaitannya secara langsung dengan saya, melainkan sekadar mendapat pengetahuan yang mungkin boleh diaplikasikan dalam apa-apa kegiatan yang bakal saya ikuti atau laksanakan. Saya pulang awal sebelum program tamat kerana terburu-buru mau membeli mesin pencetak di bandar, namun sempat meluangkan waktu beberapa minit berbincang tentang NUS dengan Alaa' al-Samarrai, wakil Student Affairs Committee FOSIS dan kalau tidak salah saya bertanggungjawab memantau perjalanan FOSIS Northwest.

Timbul cadangan oleh H dan Alaa' untuk saya bertanding dalam pilihanraya memilih wakil University of Manchester ke Persidangan Tahunan NUS 2009 nanti. Saya bertanya tentang komitmen yang diperlukan dan menunjukkan minat sekadar berbasa-basi - ketika itu saya tidak mengambil serius cadangan tersebut. Tidak logik, saya hanyalah pelajar antarabangsa dari Malaysia yang kurang dipedulikan pun oleh orang-orang tempatan lain, dengan pelajar Malaysia pun saya jarang-jarang bersosial, apatah lagi pelajar-pelajar tempatan, ada hati hendak bertanding merebut tempat sebagai wakil universiti?

Saya pergi ke bandar, membeli mesin pencetak yang sesungguhnya berat, bersusah payah mengangkutnya mendaki tangga sampai ke bilik di kediaman universiti, mengeluh kerana lengan yang lenguh-lenguh dan lebam akibat terlampau berlasak, dan barangkali langsung lupa tentang FOSIS, tentang NUS.

Namun H tidak membiarkan hal itu senyap begitu sahaja. Dengan serius sahabat saya ini menimbulkan semula perkara tersebut, membincangkannya bersama seorang lagi teman saya, SN. Hujah demi hujah dibentangkan H untuk meyakinkan kami yang waswas dan kurang entusiastik. Yang paling terkesan sehingga menyebabkan saya bersetuju mengambil borang pencalonan dan mengarang manifesto adalah dua perkara yang menjadi pembakar semangat saya hingga hari ini,

1) Perlunya figura yang lantang, berkeyakinan, berketrampilan dan berpengetahuan untuk ke hadapan memperjuangkan isu-isu tentang pelajar Islam khasnya dan masyarakat Islam amnya. Pemikiran dan pengalaman pelajar Islam Malaysia adalah unik dan sangat berguna untuk disumbangkan bagi memperkasakan lagi gerakan di United Kingdom. Kemampuan yang ada diberi oleh Allah bukanlah untuk disimpan saja-saja, dibiarkan berhabuk tidak digunakan atau diabaikan hingga tumpul tidak berasah. Kemampuan adalah tanggungjawab.

2) Belajar di luar negara tidak ada gunanya jika tanpa merebut 'nilai tambah' yang tidak dapat diperoleh jika menuntut di Malaysia. Nilai tambah yang boleh dikaut dengan melibatkan diri dengan gerak kerja pelajar-pelajar tempatan, terjun ke dalam aktivisme pelajar, di samping bergiat secara optimum dengan bidang pengajian yang diceburi. Dengan kata lain, potensi diri mesti dimaksimumkan - baik dalam akademik mahupun aktivisme. Hanya dengan mencabar kemampuan dan limitasi, diri yang batu akan menjadi berlian.





Saya bertatih-tatih menulis manifesto, mengisi borang pencalonan, dan 'berserah diri' kepada pasukan Student Affairs ISoc untuk membimbing dan menguruskan usaha berkempen saya. Yelah, tak tahu apa-apa! SN turut bertanding bersama-sama - dan bersama-samalah kami merekacipta poster dan flyer, membuat flyer packs, menampal poster, mengedar flyer, menghadiri hustings (yang hanya dihadiri oleh sekitar 20 daripada 40 calon yang bertanding dan beberapa orang pelajar - sangat tidak mendapat sambutan, tetapi saya dapat merasai pengalaman pertama membentangkan manifesto dan menjawab soalan-soalan yang dikemukakan), dan akhirnya membuang undi secara online. Tuhan, inilah kali pertama saya mencicipi 'rasa' arena politik mahasiswa di UK! Satu 'tanda' yang baru hilang, 'buah tangan' daripada episod berkempen yang lepas adalah parut kesan luka torehan pada kuku ibu jari tangan kiri saya. Puncanya, tertikam mata paku tekan sewaktu menampal poster di North Campus Student Union.

Sistem pengundian berdasarkan Single Transferable Vote - dan alhamdulillah, saya dan SN diumumkan menang. Malah saya mendapat undian pilihan pertama yang kedua tertinggi, dan setelah kiraan akhir selesai, saya adalah salah seorang daripada empat calon yang mendapat grand total tertinggi. Alhamdulillah. Teori saya - yang dipersetujui banyak orang - adalah, tuahnya terletak pada nama saya! Adibah Abdullah, nama yang akan berada paling atas dalam senarai pencalonan. Pengundi yang malas menyemak semua calon tetapi mahu mengundi akan mengambil mudah dengan mengundi nama saya, terutamanya pengundi Muslim yang dinasihati supaya mengundi calon Muslim yang dicadangkan oleh ISoc. Mungkin begitu!

Cerita baru bermula.

-akan disambung insyaAllah-

meow~